Rabu, 05 Desember 2012

PERKEMBANGAN SENI PANTUN DI MAJALENGKA



A.     Tinjauan Historis
              Kesenian pantun merupakan kesenian tradisional yang didukung oleh seni sastra dan seni karawitan. Jakon Sumardjo (2003) menyebut pantun sebagai seni pertunjukan dengan jenis teater tutur. Disebut teater tutur karena pertunjukan pantun hanya dilakukan oleh seorang pencerita yang mengisahkan sebuah lakon atau hanya ungkapan liris, dalam bentuk bercerita dan atau dinyanyikan. Selama penceritaan berlangsung juru pantun menggunakan kecapi sebagai alat pengiring.
            Diperkirakan pantun hidup di wilayah Jawa Barat sejak tahun 1514 M, sebagaimana tercatat dalam Siksakandang Karesian yaitu sebuah kitab tertua yang pernah ditulis pada jaman Kerajaan Pajajaran. Inti cerita pantun adalah sekitar kehidupan kerajaan (Pajajaran) dan pengembangan wilayahnya, yakni kisah penaklukan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, dan atau kisah lain yang masih berhubungan dengan kepentingan Kerajaan Pajajaran.
            Wilayah Majaléngka, sebagai salah satu bagian dari wilayah Jawa Barat, tentu saja memiliki sejarahnya tersendiri dalam hal kesenian pantun ini. Oom Somara de Uci, salah seorang budayawan Majaléngka, menyebut bahwa kesenian pantun di Majaléngka sudah hidup sejak jaman Majaléngka dipimpin oleh Ratu Rambutkasih, waktu itu Majaléngka masih bernama Sindangkasih. Kecapi merupakan koleksi alat kesenian yang dimiliki oleh Sang Ratu. Meskipun demikian, Ajip Rosidi yang pernah merekam cerita-cerita pantun dan kemudian membuat transkripsinya, mengatakan bahwa di Majaléngka tidak ada kesenian pantun. Bisa jadi waktu itu Ajip Rosidi belum melakukan penelitian yang lebih jauh tentang keberadaan pantun di Majaléngka.
            Sebagaimana halnya di daerah lain di Jawa Barat, kesenian pantun di Majaléngka mengalami masa keemasan pada tahun 1950-1960-an. Beberapa nama di bawah ini merupakan juru pantun yang pernah meramaikan pertunjukan pantun di Majaléngka, antara lain :
  1. Ki Saein dari Tonjong
  2. Sidik dari Bantarjati
  3. Warwa dari Jatitujuh
  4. Maun dari Pasir, Palasah
  5. Nadi dari Kutamanggu
  6. Baedi dari Kadipaten
  7. Kusma dari Kadipaten

B. Waditra dan Tata Cara Pertunjukan
           Waditra yang digunakan dalam pergelaran pantun adalah kecapi. Jurupantun memainkan kecapi sendiri sepanjang cerita yang dibawakannya.
            Cerita pantun dimulai dengan  :
  1. Rajah Pamunah,
  2. Mangkat carita,
  3. Nataan karajaan dan para tokoh cerita,
  4. Bercerita
  5. Rajah Pamungkas atau Rajah Penutup.
            Cerita pantun yang terkenal antara lain Mundinglaya di Kusumah, Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Nyi Sumur Bandung, Sulanjana, Panggung Karaton, Demung Kalagan, dan sebagainya. Berdasarkan transkripsi Ajip Rosidi, Jakob Sumardjo mencatat ada 32 judul cerita pantun.
            Pada umumnya pantun dipertunjukan untuk acara-acara sakral seperti upacara ruat (ngaruat), namun kadang ramai juga dipertunjukan dalam acara khitanan atau perkawinan. Pertunjukan selalu dilaksanakan pada malam hari.

C. Prospek dan Pembinaan
Di sebagian wilayah Majalengka, kesenian pantun masih diminati, namun frekuensinya sudah sangat berkurang. Kini hanya tercatat tiga orang juru pantun saja yang masih hidup, yaitu Cecep di Palasah, Rasim di Mandapa, dan Iwan Ompong di Dawuan. Cecep yang tuna netra bahkan tidak lagi melakukan aktivitasnya sebagai juru pantun. Usianya sudah sangat uzur.
            Prospek kesenian pantun agaknya mengalami hal yang amat sulit. Generasi muda semakin tidak mengenal jenis kesenian yang satu ini. Pembinaan kiranya dapat dilakukan lewat upaya pengenalan pantun melalui institusi sekolah atau pertunjukan rutin di masyarakat. Setidaknya, kesenian pantun pernah dikenal masyarakat, bukan hanya melalui tuturan guru di sekolah, akan tetapi melalui pengalaman menyaksikan atau apresiasi.

0 komentar:

Posting Komentar