SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

KESENIAN SAMPYONG MAJALENGKA

Berawal dari munculnya sebuah permainan yang dinamakan ujungan, yaitu permainan anak-anak gembala di daerah Cibodas, sebuah désa di Majaléngka bagian Selatan. Sambil menggembalakan ternaknya, mereka melakukan sebuah permainan saling memukul dengan menggunakan seutas tongkat pemukul.
                Permainan ujungan kemudian berkembang menjadi permainan orang dewasa, dan untuk menghindari luka di bagian kepala, digunakan teregos semacam helm pengaman pada permainan tinju amatir. Pengaman  bagian kepala itu dinamakan balakutak. Pemain wajib menggunakan pengaman karena pukulan diarahkan ke seluruh bagian tubuh, termasuk kepala.
                Permainan ujungan yang pukulannya diarahkan ke seluruh bagian tubuh ini kemudian dianggap sangat berbahaya. Pada waktu itu mémang banyak sekali korban akibat pukulan yang membabi buta. Orang yang tidak punya cukup kesaktian dan kekuatan, akan dibuat pingsan karenanya. Oleh karena itu, para tokoh permainan ujungan mencoba membuat penyederhanaan dan membuat peraturan permainan.
          

Muncullah kemudian permainan yang disebut sampyong, yakni sebuah permainan ‘penyederhanaan’ dari permainan ujungan. Kini bentuknya bukan lagi sebuah permainan, namun lebih menyerupai seni pertunjukan karena selama permainan berlangsung diiringi musik kendang pencak. Para pemainnya mempertunjukkan jurus-jurus pencak silat dan memamerkan kebolehannya dalam ibing pencak.
                Adapun peraturan permainan yang ditetapkan adalah :
1.       Seorang pemain hanya diperkenankan memukul sebanyak tiga kali.
2.       Sasaran pukulan hanya sebatas kaki bagian bawah, atau betis bagian belakang,
3.       Pemain diperkenankan main sesuai dengan kelas yang dimilikinya, misalnya tua atau muda, dsb.
                Kata sampyong berasal dari kata sam dan pyong (Bhs. Cina) artinya memukul tiga kali. Artinya pemain diizinkan memukul sebanyak tiga kali pukulan.
                Pada praktiknya kesenian sampyong dipimpin oleh seorang malandang yang berdiri selaku wasit dan mengatur jalannya permainan. Selama memimpin pertandingan, malandang melakukan gerak-gerak ibing pencak silat, dan memberikan aba-aba “Biluuuk!” kepada para pemain. Jika mendengar kata biluk diteriakkan, maka pemain siap memukul dan siap pula dipukul, sesuai dengan giliran masing-masing.

Waditra pengiring sampyong adalah seperangkat gamelan pencak silat, terdiri atas dua set gendang, kulanter, kempul, dan terompet sebagai alat musik melodisnya.
                Sebagai sebuah seni pertunjukan, sampyong sering dihidangkan untuk menghibur dalam acara-acara tertentu. Pada tahun 1970-an sampyong dihidangkan dalam acara hajatan, namun lebih sering dipertunjukkan pada acara seremonial tertentu.
                Tatacara pertunjukannya adalah sebagai berikut :
1.       Seluruh  peserta memasuki arena, dipimpin oleh seorang wasit (malandang), melakukan penghormatan kepada penonton dengan iringan lagu Golempang.
2.       Pertunjukan eksibisi, dimainkan oleh dua orang tokoh sampyong, sebagai pertunjukan pembuka.
3.       Pertunjukan utama, pemain saling berhadapan menurut gilirannya masing-masing.

Tokoh-tokoh sampyong yang berjasa mengem-bangkan sampyong sebagai kesenian asli Majaléngka adalah Abah Sanen, Abah lewo, Mang Kiyun, Mang Karta, K. Almawi, Baron, Toto, Komar, Anah, Emin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Kelompok Sampyong Mekar Padesan pimpinan K. Almawi pernah main di Taman Mini Indonesia Indah, Taman Budaya Bandung, dan di Bali.
               Sampyong sebagai kesenian tradisional tersebar di beberapa wilayah, antara lain di Simpeureum, Cigasong, Cibodas, Kulur, Sindangkasih, Cijati, Jatipamor, Pasirmuncang, dan beberapa daerah lain.
                Upaya pembinaan perlu dilakukan dengan cara regenerasi, agar kesenian sampyong tetap eksis meramaikan khasanah kesenian tradisional di Majaléngka.

Jumat, 19 Februari 2016

WAYANG KULIT PURWA



SEJARAH WAYANG KULIT PURWA DI MAJALENGKA

Wayang kulit telah ada sejak masa pemerintahan Sri Maharaja Lokapala Hariwangsa Tunggadewa. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan tahun 840 M. Prasasti lainnya yang menyebut adanya wayang kulit adalah prasasti yang berangka tahun 907 ketika Diah Balitung memerintah Mataram.

Di Jawa, wayang kulit dikenal masyarakat pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad XI. Pada masa pemerintahan Raden Fatah (Demak) wayang kulit pernah dilarang, karena wajahnya seperti manusia. Agar wayang tetap hidup, para wali bersepakat membuat bentunya yang baru, terbuat dari kulit yang sangat sederhana. 
Sunan Kalijaga kemudian mengusulkan agar wayang kulit menjadi media syiar Islam. Di samping itu bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan kepada dewa-dewa dalam agama Hindu. Karakteristik tokoh pendeta yang ada pada Mahabarata dirubah, sehingga masyarakat beralih pandang dan bersedia masuk agama Islam.
Seiring dengan upaya penyebaran agama Islam, wayang kulit masuk ke wilayah Cirebon dan sekitarnya. Imbas dari penyebaran agama Islam melalui Cirebon itu akhirnya sampai juga di wilayah Maja-léngka, dan berkembang pesat pada tahun 1960-an. Wayang kulit yang berkembang di Majaléngka terutama tersebar di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Cirebon dan Indramayu, seperti Jatitujuh, Jatiwangi, dan Sumberjaya. 
Terdapat beberapa pebedaan antara wayang kulit yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya dengan wayang kulit di Yogyakarta, antaranya :
1. Bentuk tokoh lakon Mahabarata dan Ramayana yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya 
        cenderung sama dengan yang berkembang di Demak.
2. Tokoh panakawan di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka terdapat 9, yaitu Semar, 
        Gareng, Dawala, Sekarpandan, Bagong (Astrajingga), Cungkring, Bitarita, Ceblok, dan 
       Bagalbuntung. Sedangkan di Yogyakarta hanya empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.
Perkembangan wayang kulit di Majaléngka tidak bisa lepas dari nama Sunan Kalijaga dengan sebutan Pangéran Panggung sebagai cikal bakalnya. Di bawah adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam mengembangkan wayang kulit hingga ke wilayah Majalengka.
1. Pangéran Panggung (Sunan Kalijaga)
2. Pangéran Canggah Kawi
3. Pangéran Surapringga
4. Kidar
5. Kintan
6. Kaca
7. Gunteng (Gendut)
8. Keling (Karep), yang satu ini merupakan dalang  Keraton  Kasepuhan   Cirebon.  Ia juga 
        mendapat julukan Ngabei Kertaswara atau Embah Bei.
9. Patut
10. Candra / Suwati 
11. Supena
12. Dana
13. Suta
14. Karma Al HB


SUKARTA
Tokoh Wayang Kulit Purwa Majalengka
Ringgit Purwa, Bongas, Kec. Sumberjaya, Majalengka

TATA CARA PERTUNJUKAN

Pergelaran wayang kulit biasanya menggunakan layar atau kain putih membentang di bagian depan panggung. Di belakang layar dipasang lampu blencong (dalung), penonton dapat melihat bayangan wayang kulit di layar bagian depan ketika wayang kulit dimainkan.
Waditra pengiring wayang kulit adalah seperangkat gamelan berlaras pelog yang terdiri dari : gendang, kulanter, bedug, saron, peking, selentem, gong, kempul, panerus, kenong, jengglong, ketuk, gambang, kecrek, kamanak, dan suling. Adapun personil pergelaran wayang kulit adalah dalang, pemain gamelan (nayaga), sinden, alok, dan catrik (pembantu dalang).

PROSPEK DAN PEMBINAAN

Dalam sebuah kesempatan wawancara, Sukarta, salah seorang tokoh pedalangan wayang kulit purwa di Majaléngka mengemukakan harapan, bahwa seyogyanya wayang kulit kembali 'dihidupkan'. Ia berpendapat, sebenarnya sebagian besar masyarakat Majaléngka menggemari wa-yang kulit. Kuncinya adalah adanya perhatian dari pemerintah daerah terhadap kesenian wayang kulit. Misalnya dengan menganjurkan kembali pelaksanaan upacara adat yang di beberapa tempat sudah mulai ditinggalkan. Upacara adat seperti muka tanah, mapag Sri (saat mau panén), dsb. minimal membutuhkan pertunjukan wayang kulit, walau hanya untuk satu kali dalam satu tahun. Daerah yang masih melakukan upacara adat demikian adalah Sidamukti dan Ligung. Di dua daerah ini  wayang kulit masih dibutuhkan.
Pembinaan yang dilakukan antara lain melaksanakan pergelaran secara berkala, atau melaksanakan ajang binojakrama rutin setiap satu atau dua tahun sekali. Dari ajang tersebut akan diketahui potensi pedalangan wayang kulit di Kabupaten Majalengka. 
Berikut beberapa dalang dan nama grupnya yang masih eksis di Majaléngka :
1. Renda, Ringgit Purwa, di Cicurug, Majaléngka.
2. Sukarta, Panggelar Budi, di Bongas, Sumber Jaya (Juara Umum Binojakrama Pedalangan        
        Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1993).
3. Eye Rosdiana, Panca Darma, Sindangwasa, Palasah (Juara 1 Binojakrama Pedalangan Wayang 
        Kulit se-Jawa Barat tahun 1995).
4. Eman di Cicurug, Majalengka
5. Yono Dana Muda, Gaya Mekar, di Ranji, Dawuan
6. Edi Permana, Sri Sejati, di Balida, Dawuan (Juara II Binojakrama Pedalangan Wa-yang Kulit 
        2007 di Majaléngka)
7. Parta Suwandana. Gaya Pribadi, di Loji, Palasah.
8. Oong Kertaswara, Pancaroba, di Balida, Dawuan
9. Ita Karwita, di Randegan, Jatitujuh (Juara III Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007)
10. Waskita, di Iser, Leuwimunding (Juara I Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di 
        Majaléngka).*** 

(Diposting oleh Asikin Hidayat, M.Pd.)

Jumat, 08 Maret 2013

SENI GAOK MAJALENGKA


            Gaok merupakan kesenian jenis mamaos (membaca teks) atau disebut juga wawacan,  dari kata wawar ka nu acan (memberi tahu kepada yang belum mengetahui), yang disuguhkan untuk keperluan ritual atau upacara adat ‘ngayun’ (acara seminggu kelahiran bayi). Kata gaok berasal dari kata “gorowok” artinya berteriak, karena gaok dibawakan dengan cara dinyanyikan dengan suara yang keras atau dengan nada tinggi.
          Gaok dibawakan dengan cara memaparkan cerita babad tanpa iringan musik. Jika sekarang terdapat penambahan alat musik, itu hanya digunakan sebagai pembuka saja, tidak digunakan untuk mengiringi mamaos / gaok secara keseluruhan. Sering alat musik digunakan hanya sebagai jeda saja.
            Berkembang di Majaléngka sejak masa peme-rintahan Pangéran Muhammad, yaitu pada abad ke-15. Diprediksi bahwa gaok merupakan media dakwah Islam sebelum masyarakat mengenal budaya baca. Kesenian ini mengalami sinkritisme antara nilai-nilai budaya etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Artinya ada pencampuran antara nilai budaya Sunda dengan nilai budaya Islam. Misalnya, pertunjukan dimulai dengan ucapan basmallah, namun bahasa yang digunakan kemudian adalah bahasa Sunda.
        Tokoh yang berperan mengembangkan kesenian gaok antaranya adalah Sabda Wangsaharja sekitar tahun 1920-an. Beliau berdomisili di Kulur, Majaléngka.
           Gaok dimainkan oleh empat sampai enam orang pemain yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Baju yang digunakan adalah baju kampret atau toro, lengkap dengan ikat kepala.
            Pertunjukan dipimpin oleh seorang dalang / pangrawit, dan pemain lainnya berperan sebagai juru mamaos. Selain sebagai juru mamaos, setiap pemain memegang sebuah alat musik atau waditra yang sangat sederhana, semuanya terbuat dari bambu, yaitu berupa kecrek, gendang bambu atau dapat juga digunakan buyung, dan gong bambu yang dibunyikan dengan cara ditiup. Penambahan waditra pada kesenian gaok ini sebenarnya hanya upaya diversifikasi saja, karena secara original gaok tidak diiringi musik.
            Karena sudah dilengkapi alat musik, maka tata urutannya sebagai berikut :
1.      Tatalu, atau tabuhan pra pertunjukan
2.      Lalaguan, antara lain lagu-lagu pupujian, dan
3.      Pertunjukan, berisi cerita babad, cerita rakyat (dongeng), dsb.
            Pada tahap pertunjukan, dalang membacakan larik-larik naskah yang kemudian setiap larik yang dibacakan itu dinyanyikan oleh juru mamos secara bergantian. Jenis lagu bersumber dari pupuh yang berjumlah 17. Namun lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Ageung, yaitu Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula.
            Cerita dalam pergelaran seni Gaok  di antaranya adalah : Cerita Umar Maya, Sulanjana, Barjah, Sarmun, dsb. Bahan cerita Gaok kini ada yang sudah ditulis, antaranya Nyi Rambutkasih dan Talagamanggung, keduanya ditulis oleh E. Wangsadihardja (alm.).
        Kesenian Gaok saat ini merupakan salah satu kesenian yang langka di Majaléngka dan memerlukan perhatian yang serius dalam pembinaannya. Dalam hal ini perlu adanya upaya regenerasi melalui pendidikan kesenian, baik praktis maupun apresiasi.
            Gaok yang hidup di Majaléngka sekarang tercatat hanya dua grup saja, yaitu di Désa Kulur dan di Burujul. Di Désa Kulur, pelestarian kesenian gaok dilakukan oleh E. Wangsadihardja. Setelah beliau meninggal pada tahun 2006, kesenian Gaok dilanjutkan oleh para penerusnya, yaitu Sukarta dkk.
            Banyak pemikiran yang terlontar agar kemudian Gaok ditampilkan dengan pembaharuan-pembaharuan, misalnya pembaharuan dalam pemain dan teknik memainkannya. Nono Sudarmono melalui Tesis-nya mencoba mengangkat Gaok dengan lontaran idea kolaborasi, yakni pertunjukan gaok dengan iringan alat musik yang lebih dinamis, serta dimainkan dengan cara berdiri, menari, atau menyertakan adegan drama. Ide ini kemudian dikembangkan oleh Sanggar Seni Panghegar yang mencoba menampilkan Gaok Kolaborasi, dan sempat dipertunjukkan di Gasibu Bandung beberapa waktu yang lalu. Pertunjukan itu sendiri mendapat sambutan hangat dan bagi sebagian pihak ini merupakan upaya positip guna menghidupkan kembali Gaok di tengah alam globalisasi sekarang ini.
        Semoga!

Jumat, 14 Desember 2012

WAYANG KULIT PURWA DI MAJALENGKA

A. Tinjauan Historis 

Wayang kulit telah ada sejak masa pemerintahan Sri Maharaja Lokapala Hariwangsa Tunggadewa. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan tahun 840 M. Prasasti lainnya yang menyebut adanya wayang kulit adalah prasasti yang berangka tahun 907 ketika Diah Balitung memerintah Mataram I. Di Jawa, wayang kulit dikenal masyarakat pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad XI. Pada masa pemerintahan Raden Fatah (Demak) wayang kulit pernah dilarang, karena wajahnya seperti manusia.
Agar wayang tetap hidup, para wali bersepakat membuat bentunya yang baru, terbuat dari kulit yang sangat sederhana. Sunan Kalijaga kemudian mengusulkan agar wayang kulit menjadi media syiar Islam. Di samping itu bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan kepada dewa-dewa dalam agama Hindu. Karakteristik tokoh pendeta yang ada pada Mahabarata dirubah, sehingga masyarakat beralih pandang dan bersedia masuk agama Islam.
Seiring dengan upaya penyebaran agama Islam, wayang kulit masuk ke wilayah Cirebon dan sekitarnya. Imbas dari penyebaran agama Islam melalui Cirebon itu akhirnya sampai juga di wilayah Majaléngka, dan berkembang pesat pada tahun 1960-an. Wayang kulit yang berkembang di Majaléngka terutama tersebar di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Cirebon dan Indramayu, seperti Jatitujuh, Jatiwangi, dan Sumberjaya.
Terdapat beberapa pebedaan antara wayang kulit yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya dengan wayang kulit di Yogyakarta, antaranya :
1. Bentuk tokoh lakon Mahabarata dan Ramayana yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya cenderung sama dengan yang berkembang di Demak.
2. Tokoh panakawan di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka terdapat 9, yaitu Semar, Gareng, Dawala, Sekarpandan, Bagong (Astrajingga), Cungkring, Bitarita, Ceblok, dan Bagalbuntung. Sedangkan di Yogyakarta hanya empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Perkembangan wayang kulit di Majaléngka tidak bisa lepas dari nama Sunan Kalijaga dengan sebutan Pangéran Panggung sebagai cikal bakalnya.
Di bawah adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam mengembangkan wayang kulit.
1. Pangéran Panggung (Sunan Kalijaga)
2. Pangéran Canggah Kawi
3. Pangéran Surapringga
4. Kidar
5. Kintan
6. Kaca
7. Gunteng (Gendut)
8. Keling (Karep), yang satu ini merupakan dalang Keraton Kasepuhan Cirebon. Ia juga mendapat julukan Ngabei Kertaswara atau Embah Bei.
9. Patut
10. Candra / Suwati
11. Supena
12. Dana
13. Suta
14. Karma Al HB

B. Waditra dan Tata Cara Pertunjukan 

 Pergelaran wayang kulit biasanya menggunakan layar atau kain putih membentang di bagian depan panggung. Di belakang layar dipasang lampu blencong (dalung), penonton dapat melihat bayangan wayang kulit di layar bagian depan ketika wayang kulit dimainkan.
Waditra pengiring wayang kulit adalah seperangkat gamelan berlaras pelog yang terdiri dari : gendang, kulanter, bedug, saron, peking, selentem, gong, kempul, panerus, kenong, jengglong, ketuk, gambang, kecrek, kamanak, dan suling.
Adapun personil pergelaran wayang kulit adalah dalang, pemain gamelan (nayaga), sinden, alok, dan catrik (pembantu dalang).
Sebelum pergelaran dimulai, dalang membakar dupa dan membacakan do’a, memohon lindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa dan restu dari para ‘karuhun’, agar diberi kekuatan, kecemerlangan berpikir, kefasihan berbicara, dan terutama sekali, keselamatan pertunjukan sejak awal sampai akhir.
Dalam praktiknya, selain sebagai tontonan, wayang kulit juga befungsi sakral, sering dimainkan dalam acara-acara upacara adat, seperti Muludan, Mapag Sri, dan Ngaruat. Untuk keperluan upacara adat, biasanya diperlukan pelengkap berupa sesajian, berupa rujak dan makanan lainnya. Waktu Pabrik Gula Kadipaten masih aktif, wayang kulit menjadi salah satu hiburan wajib yang dipertunjukkan di salah satu sudut lokasi pabrik. Di beberapa tempat, misalnya di Sidamukti, wayang kulit masih sering digelar terutama untuk acara ngaruat. Di Karayunan dan di beberapa daerah di wilayah utara Majaléngka, wayang kulit masih memiliki banyak penggemar.

C. Prospek dan Pembinaan 

 Dalam sebuah kesempatan wawancara, Sukarta, salah seorang tokoh pedalangan wayang kulit purwa di Majaléngka mengemukakan harapan, bahwa seyogyanya wayang kulit kembali ‘dihidupkan’. Ia berpendapat, sebenarnya sebagian besar masyarakat Majaléngka menggemari wayang kulit. Kuncinya adalah adanya perhatian dari pemerintah daerah terhadap kesenian wayang kulit. Misalnya dengan menganjurkan kembali pelaksanaan upacara adat yang di beberapa tempat sudah mulai ditinggalkan.
Upacara adat seperti muka tanah, mapag sri (saat mau panén), dsb. minimal membutuhkan pertunjukan wayang kulit, walau hanya untuk satu kali dalam satu tahun. Daerah yang masih melakukan upacara adat demikian adalah Sidamukti dan Ligung. Di dua daerah ini wayang kulit masih dibutuhkan.
Pembinaan yang dilakukan antara lain melaksanakan pergelaran secara berkala, atau melaksanakan ajang binojakrama seperti yang pernah dilakukan pada bulan Juni tahun 2007. Dari ajang tersebut diketahui, ternyata di Majaléngka potensi pedalangan wayang kulit masih cukup baik.
Berikut beberapa dalang dan nama grupnya yang masih eksis di Majaléngka :
1. Renda, Ringgit Purwa, di Cicurug, Majaléngka.
2. Sukarta, Panggelar Budi, di Bongas, Sumber Jaya (Juara Umum Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1993).
3. Eye Rosdiana, Panca Darma, Sindangwasa, Palasah (Juara 1 Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1995).
4. Eman di Cicurug, Majalengka
5. Yono Dana Muda, Gaya Mekar, di Ranji, Dawuan
6. Edi Permana, Sri Sejati, di Balida, Dawuan (Juara II Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
7. Parta Suwandana. Gaya Pribadi, di Loji, Palasah
8. Oong Kertaswara, Pancaroba, di Balida, Dawuan
9. Ita Karwita, di Randegan, Jatitujuh (Juara III Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007)
10. Waskita, di Iser, Leuwimunding (Juara I Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
11. Anom Suhadi, di Jatitengah, Jatitujuh (masih berusia 15 tahun, tercatat sebagai peserta termuda Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka).

Kamis, 13 Desember 2012

SANDIWARA SUNDA DI MAJALENGKA


            
PENGANTAR
 
Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu.
            Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin),  Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara.
            Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel.
            Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadipaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya adalah Galih Pakuan pimpinan Safaat Suwanda, Budaya Sunda pimpinan Kida, dan Sinar Galih pimpinan Aji Somara. Di Jatiwangi juga pernah berdiri gedung kesenian Mustika Budaya. Selain manggung di gedung-gedung pertunjukan dan memenuhi permintaan hiburan hajatan atau event khusus, kelompok-kelompok sandiwara itu ada yang melakukan pertunjukan secara ngubung, yaitu pertunjukan di beberapa tempat secara berpindah-pindah, misalnya di Munjul, Kapur, Apuy, dan beberapa tempat lainnya. Seperti halnya pertunjukan di gedung kesenian, penonton yang datang di tempat ngubung juga ditarik bayaran.
            Masa emas sandiwara Sunda di wilayah Majaléngka bertahan sampai akhir tahun 1984. Setelah itu nasibnya tersingkirkan dengan kedatangan hiburan lain berupa pertunjukan film bioskop dan layar tancap serta maraknya perkembangan televisi.
            Gedung Serbaguna di Kadipaten kemudian berubah fungsi menjadi gedung bioskop. Gedung Mustika Budaya di Jatiwangi berubah fungsi menjadi gudang pupuk, dan sekarang menjadi pertokoan. Tempat ngubung pun satu-persatu hilang.
            Walaupun demikian upaya survive tetap dilakukan. Gaya Remaja di Dawuan dan Medal Kawangi di Palasah hingga sekarang masih berdiri, walaupun  frekuensi pertunjukan sudah sangat jarang. Bahkan beberapa perkumpulan yang relatif baru pun berdiri di beberapa tempat, antara lain Candra Kirana pimpinan H. HR Affendi di Ampel, Ligung, dan Putra Remaja pimpinan S. Aripin di Pagandon.
            Beberapa tokoh sandiwara Sunda di Majaléngka antara lain : Karma Al Habe, Hj. Mimi Karwati, Komar Sonjaya, Tatang Riyana, Mih Atin, Agod, Ayi, Hayo Haryono, Toto Subrata, Otong Ruslan, Dudung Durahman, Jumali, Juned, Odri (Wa Agod), Ratnanengsih (Ma Ala), Toto Batara, S. Aripin, HR Affendi, dll.

           
UNSUR CERITA SANDIWARA
 
Terdapat beberapa jenis cerita yang diangkat dalam pertunjukan sandiwara, yaitu cerita pantun, cerita Mahabarata dalam bentuk wayang orang, cerita babad, dan cerita desik. Cerita pantun antara lain Lutung Kasarung, Sangkuriang, dll. Cerita wayang antara lain Arjunawiwaha, Bangbang Kombayana, dll. Cerita babad di antaranya Dewi Roro Kidul dan Hayam Wuruk, Damar Wulan, Ciung Wanara, dan Suryaningrat. Cerita desik diambil dari cerita seribu satu malam, antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dll.
            Di wilayah Majaléngka, cerita yang sering ditampilkan adalah cerita pantun dan cerita babad.

UNSUR BAHASA, DRAMA, TARI, SUARA,  DAN  RUPA

   Bahasa dan sastra menyangkut penggunaan bahasa dan ungkapan dalam pertunjukan sandiwara. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan sandiwara adalah bahasa Sunda berbentuk prosa, namun di sana-sini terdapat banyak sekali ungkapan-ungkapan yang puitis.

   Unsur drama menyangkut pemeranan dalam pertunjukan sandiwara, misalnya raja, permaisuri, patih, dll. Setiap pemeran melakukan dialog satu sama lain dan terlibat dalam konflik yang dibangun. Di dalam pemeranan, ada yang disebut pemeran utama dan pemeran pembantu.
         Pemeran utama wanita dalam pertunjukan sandiwara dikenal dengan sebutan sripanggung. Mimi Karwati, Nanah Hasanah, adalah dua orang sosok sripanggung yang sangat dikenal pada masanya.

  Unsur tari tersaji untuk cerita-cerita pantun, cerita wayang, dan cerita babad. Hampir semua pemain sandiwara mampu menari, dengan karakter tarian sesuai dengan peran masing-masing pemain.

      Seni suara tersaji dalam bentuk nyanyian yang dibawakan oleh sinden dan penabuh gamelan. Seperti halnya pertunjukan wayang, setiap adegan memiliki karakter lagu dan jenis tabuhan tertentu.

      Seni rupa muncul dalam bentuk artistik latar belakang panggung berupa layar-layar yang dibentang, dan digulung ke atas jika tidak sedang dipakai. Setiap layar digambar sesuai karakter bagian cerita atau adegan, misalnya layar putih, layar merah, gambar kadipaten, gambar kaputren, keraton, taman sari, hutan, dll.

             
TATA CARA PERTUNJUKAN
 
Pertunjukan sandiwara, yang dimainkan tanpa skenario tertulis, terdiri atas beberapa adegan atau disebut juga bedrip. Para pemain yang masuk pada setiap adegan menarikan tarian sesuai karakter yang dibawakannya.
            Seperti halnya pertunjukan teater, alur cerita biasanya terdiri atas pengenalan – konflik – klimaks – penyelesaian.

        
PROSPEK DAN PEMBINAAN
 
Sandiwara Sunda kini menghadapi masa yang amat sulit. Perkembangan teknologi informasi yang menyajikan berbagai fenomena dunia yang semakin mudah, semakin mempersempit ruang gerak sandiwara Sunda untuk tetap eksis. Jika di beberapa tempat di Majaléngka masih terdapat grup Sandiwara yang masih hidup, adalah karena generasi pemain Sandiwara masih mencoba menghidupi kesenian yang satu ini, walaupun tidak menjanjikan mampu menghidupi dirinya sendiri melalui kesenian yang dikembangkannya ini.
      Prospek yang paling mungkin adalah upaya pelestarian kesenian yang semakin tersudut ini melalui upaya-upaya :
1.      Regenerasi, berupa pelatihan pengetahuan dan pemeranan sandiwara kepada generasi muda.
2.   Penulisan naskah drama baik berupa bagal cerita, cerita utuh, maupun berupa skenario, sehingga sandiwara dapat dimainkan oleh para pemula.
3.     Adanya upaya pembaharuan dari para pelaku sandiwara Sunda, sehingga sandiwara tampil dengan bentuk baru namun tidak meningalkan khas tradisionalnya. Dengan upaya pembaharuan itu, sandiwara Sunda akan mampu bersaing dengan tontonan lain yang marak berkembang di Majaléngka.
Pembaharuan itu misalnya dalam olah cerita, teknik pemeranan, gending, dan sebagainya. Boleh jadi campursari yang berkembang di wilayah Jawa Tengah menjadi contoh yang baik dari sebuah upaya pembaharuan.
4.  Perhatian serius dari pemerintah untuk tetap memberikan kehidupan kepada kesenian sandi-
     diwara Sunda, baik berupa pementasan rutin, maupun subsidi dengan teknis-teknis tertentu.

Jumat, 30 Maret 2012

AKTIVITAS SANGGAR SENI PANGHEGAR

Sanggar seni Panghegar


Sanggar Seni Panghegar berdiri sejak tahun 2007 yang lalu, tepatnya pada tanggal 12 bulan Januari, Sanggar seni Panghegar hadir untuk melestarikan budaya daerah khususnya sunda. Sanggar ini berlokasi di kelurahan Munjul, kecamatan Majalengka, kabupaten Majalengka tepat di samping kantor PLN Munjul. Dari segi legalitasnya,sanggar seni yang satu ini telah mendapatkan izin usaha pariwisata dan budaya Nomor : 556. 1/636/Budpar, dan sudah memiliki dasar pendirian organisasi berdasarkan Peraturan Bupati Majalengka No. 27 tahun 2005 tentang pedoman pemberian izin pembinaan dan pengawasan usaha pariwisata dan budaya di kabupaten Majalengka.
Setiap harinya, Sanggar Seni Panghegar menyelenggarakan kursus dan pelatihan kesenian daerah seperti tari sunda, kecapi, olah vokal, gamelan, dan biola.
Terkait sarana dan fasilitas, saat ini Sanggar Seni Panghegar telah memiliki gedung latihan permanen, seperangkat gamelan pelog salendro , arumba, dogdog, calung, angklung, kecapi tembang, dua buah kecapi kawih, dan satu set suling.
Sanggar Seni Panghegar telah sering mengikuti berbagai event di beberapa tempat baik tingkat regional maupun nasional. Seperti pada event Longser “Kulawarga jagabaya” tahun 2008 yang bertempat di gedung BKKBN Majalengka, Gelar seni Lalayang Pangbagea tahun 2009 di kantor Budpar Majalengka, Sendratari “Katumbiri sindangkasih” tahun 2009 Majalengka, Karnaval Hari Jadi Kabupaten Majalengka, dan banyak lagi event-event lainnya yang diikuti oleh sanggar seni ini.
Adapun prestasi yang pernah di raih, diantaranya Juara II Lomba KIE Keluarga Berencana melalui sendratari “Katumbiri Sindangkasih” di auditorium RRI Bandung pada tahun 2009 yang diselenggarakan oleh BKKBN Propinsi jawa, Juara II Lomba Vokal Group Penerangan KB tahun 2010 di bandung yang diselenggarakan oleh BKKBN Propinsi jawa barat, Juara Terpilih Festifal Jaipongan tahun 2011dengan penyelenggaranya dari Perusahaan Dealer Yamaha Fortuna Majalengka, dan Juara Utama Gelar Seni Tradisonal (Jaipongan) Hikayat Warga Sehati tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Bentoel Sejati.

Rabu, 07 Desember 2011

Bermain Angklung


Hal – hal dibawah ini merupakan cara memegang, menggetarkan dan memainkan angklung yang selama ini dianggap paling tepat.
  • Posisi angklung adalah tabung yang tinggi berada di sebelah kanan pemain, dan yang kecil berada di sebelah kiri, dengan posisi lurus, tidak miring.
  • Tangan kiri pemain memegang angklung pada bagian simpul atas angklung dan tangan kanan memegang angklung pada bagian bawah angklung. Posisi tangan kiri dapat menggenggam ke arah bawah maupun ke arah atas. Kedua tangan diharapkan dalam posisi lurus.
  • Tangan yang bertugas menggetarkan angklung adalah tangan kanan, sedangkan tangan kiri hanya memegang angklung, tidak turut digerakkan. Gerakan tangan kanan adalah arah kanan ke kiri, dan gerakan dilakukan dengan cepat dari pergelangan tangan
  • Apabila pemain memegang lebih dari satu angklung, maka angklung yang berukuran lebih besar ditempatkan lebih dekat dengan tubuh. Apabila ukurannnya cukup besar, angklung dapat kita masukkan ke dalam lengan pemain. Kalau kecil, angklung tetap dipegang dengan jari, tetapi harus tetap ada jarak antar angklung sehigga tidak saling bersinggungan.
Memainkan angklung ada beberapa cara:
Getaran panjang
Angklung digerakan panjang sesuai dengan nilai nada yang dimainkan, sehingga nada dimainkan secara sambung menyambung.
Staccato
Angklung tidak digetarkan seperti biasanya, tetapi dengan cara dicetok, sehingga menghasilkan bunyi yang pendek. Biasanya cara memegang angklung untuk menghasilkan bunyi seperti ini adalah dengan sedikit memiringkan angklung dan tabung dasar kanan angklung dipukulkna ke tangan kanan.
Tengkep
Cara ini dimainkan dengan menahan atau menutup tabung kecil sehingga tidak ikut berbunyi. Getaran untuk cara ini tetap panjang dan disambungkan. Cara ini dilakukan jika ingin menghasilkan suara yang lebih halus.
Sumber : www.angklung-udjo.co.id

PANDUAN MEMAINKAN ANGKLUNG

PANDUAN MEMAINKAN ANGKLUNG Print E-mail
Written by BUDI SUPARDIMAN AWI   
Dipindahtulis dari AWI: Angklung Web Institute
Pendahuluan

Pertama-tama selamat kepada Anda yang telah membuka situs kami. Melalui perhatian Anda, kita berharap kita dapat turut melestarikan dan mengembangkan budaya asli Indonesia.

Alat musik angklung sendiri menurut catatan sejarah telah dimainkan sejak lama di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali dengan susunan nada lima nada (pentatonis). Angklung konon dulu dimaikan baik sebagai alat musik maupun untuk pesta rakyat. Namun demikian, semenjak tahun 1938, Bapak Angklung Daeng Soetigna telah menyusun kembali susunan angklung dalam nada diatonik (tujuh nada) kromatis, sehingga sejak saat itu angklung dapat memainkan musik naional maupun internasional. Dan dapat disesuaikan dengan selera dari para pemain sehingga bermain angklung dapat lebih menyenangkan selain membentuk karakter kelompok (building character) melalui: dispilin, gotong royong dan kerjasama, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 082 tahun 1968 tentang Musik Angklung sebagai alat musik pendidikan.


Perangkat Angklung

Perangkat musik angklung umumnya disebut dalam satuan unit dan set, perincian berdasarkan konvensi sebagai berikut:

satu unit unit besar (sebagai contoh) terdiri atas:

  • angklung melodi kecil nomor 0 s.d. 30 sebanyak 3 set.
  • angklung melodi besar nomor G s.d. f  sebanyak 2 set.
  • angklung akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.
  • angklung ko-akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.


Cara Memainkan Angklung

Seperti pada umumnya, angklung dimainkan dengan cara digetarkan. Untuk menghasilkan bunyi yang baik, maka ada beberapa teknik yang dapat diterapkan sebagai berikut.


Cara Memegang Angklung

Angklung dapat dipegang dengan cara sebagai berikut (ini berlaku untuk yang normal, jika kidal maka diperlakukan sebaliknya):

  • Tangan kiri bertugas memegang angklung dan tangan kanan bertugas menggetarkan angklung.
  • Tangan kiri dapat memegang angklung dengan cara memegang simpul pertemuan dua tiang angklung vertikal dan horisontal (yang berada di tengah), sehingga angklung dipegang tepat di tengah-tengah. Hal ini dapat dilakukan baik dengan genggaman tangan dengan telapak tangan mengahdap ke atas atau pun ke bawah.
  • Posisi angklung yang dipegang sebaiknya tegak, sejajar dengan tubuh, dengan jarak angklung dari tubuh cukup jauh (siku tangan kiri hampir lurus), agar angklung dapat digetarkan dengan baik dan maksimal.
  • Tangan kanan selanjutnya memegang ujung tabung dasar angklung (horisontal) dan siap menggetarkan angklung.


Cara Memegang Lebih dari Satu Angklung

Untuk pemain yang memegang lebih dari satu angklung, dapat dilakukan cara memegang angklung sebagai berikut:

Angklung yang ukurannya lebih besar dipegang tangan kiri pada posisi yang lebih dekat ke tubuh, baik dengan cara dimasukkan ke dalam lengan (jika angklung melodi besar atau yang masuk ke dalam lengan pemain) di posisi lengan bawah, atau dimasukkan ke dalam jari tangan kiri sehingga angklung sisanya dapat dipegang juga oleh jari tangan kiri lainnya dan masing-masing angklung dapat dimainkan dengan sempurna dan baik.


Cara Membunyikan Angklung

  • Angklung digetarkan oleh tangan kanan, dengan getaran ke kiri dan ke kanan, dengan posisi angklung tetap tegak (horisontal), tidak miring agar suara angklung angklung rata dan nyaring.
  • Sewaktu angklung digetarkan, sebaiknya dilakukan dengan frekuensi getaran yang cukup sering, sehingga suara angklung lebih halus dan rata.
  • Meskipun memainkan angklung bisa sambil duduk, tetapi disarankan pemain memainkan angklung sambil berdiri agar hasil permainan lebih baik.
  • Disarankan juga pada saat memulai latihan, dapat dimulai dengan latihan pemanasan, yaitu membunyikan angklung bersama-sama dengan melatih nada-nada pendek dan panjang secara bersama selama tiga sampai lima menit setiap latihan.


Beberapa Cara Memainkan Angklung

Sekurang-kurangnya terdapat dua cara yang paling umum tentang memainkan alat musik angklung, yaitu dengan digatarkan dan dipukul (dibunyikan putus-putus atau centok). Berikut disampaikan bberapa teknik yang dapat dipergunakan untuk bermain angklung dengan baik.


Menggetarkan Angklung


Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan.


Membunyikan Putus-putus, Dipukul (Centok)

Angklung tidak digtarkan, melainkan dipukul ujung tabung dasar (horisontal)-nya oleh telapak tangan kanan untuk menghasilkan centok (seperti suara pukulan). Hal ini berguna untuk memainkan nada-nada pendek seperti tanda musik pizzicato.


Tengkep

Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan, tetapi tidak seperti biasanya tabung kecilnya ditutup oleh salah satu jari tangan kiri sehingga tidak berbunyi (yang berbunyi hanya tabung yng besar saja). Hal ini dimaksudkan supaya dapat dihasilkan nada yang lebih halus sesui keperluan musik yang akan dimainkan (misalkan untuk tanda dinamika piano).


Nyambung

Seperti disampaikan oleh guru angklung diatonis Bapak Daeng Soetigna, maka dianjurkan untuk membunyikan nada angklung secara nyambung. Hal ini dilkukan dengan teknik sebagai berikut: bila ada dua nada yang dimainkan secara berturutan, maka agar terdengar nyambung maka nada yang dibunyikan pertama dibunyikan sedikit lebih panjang dari nilai nadanya, sehingga saat nada kedua mulai dimainkan, nada pertama masih berbunyi sedikit, sehingga alunan nadanya terdengar nyambung dan tidak putus.


Dinamika (keras dan pelan)

Sesuai kebutuhan lagu, angklung dapat dimainkan pelan (piano) atas keras (forte). Disarankan untuk kedua jenis dinamika ini sebaiknya frekuensi getaran angklung per detik tetap sama jumlahnya, sedangkan yang berbeda adalah jarak ayunan angklung oleh tangan kanan yang selanjutnya akan menentukan amplituda getaran dan menyebabkan keras atau pelannya lnada yang dimainkan.


Cara Memainkan Angklung Melodi dan Akompanyemen

Cara bermain angklung di atas ditujukan untuk angklung melodi. Selain angklung melodi, terdapat angklung akompanyemen yang terdiri atas nada akor. Angklung ini dimainkan sesuai akor lagu, dan dapat dimainkan dengan dua cara, yaitu digetarkan dan ditengkep.

Untuk teknik memainkan angklung akompanyemen dengan metoda centok (pukul), dapat dilakukan bersama dengn alat musik bass (bisa bass petik seperti cello/biola dengan ukuran besar) atau bass pukul (dari tabung angklung berukuran sangat besar). Teknik memainkannya mengikuti pola ritmik lagu seperti misalnya poila waltz ( 0 X X) atau mars ( 0X 0X 0X 0X), dengan keterangan 0 untuk memainkan bass dan X untuk memainkan angklung akompanyemen.

Sebagai catatan tambahan, umumnya angklung akompanyemen mayor terdiri atas empat tabung dengan menyertakan nada septime (7)-nya, sehingga jika dibutuhkn untuk memainkan akor mayor murni maka nada septimenya sebaiknya tidak dimainkan (ditengkep) sesuai keperluan lagu.

Angklung ko-akompanyemen adalah angklung akompanymen dengan susunan nada lebih tinggi satu oktaf. Biasanya angklung ini dimainkan bersahutan akompanyemen atau bersamaan dengan angklung akompanyemen, atau dimainkan secara khusus untuk jenis musik tertentu seperti keroncong.