SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

Senin, 08 Agustus 2011

ASAL-USUL MAJALENGKA

(Sebuah Catatan Nonsejarah)


I.           Pendahuluan
Majalengka adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di Jawa Barat, berada pada ketinggian kurang lebih 150 m di atas permukaan laut. Berbatasan dengan wilayah kabupaten Cirebon dan Kuningan di sebelah Timur, dengan Ciamis di sebelah Selatan, dengan Kabupaten Sumedang di wilayah Barat, dan dengan Kabupaten Subang dan Indramayu di sebelah Utara.
Matapencaharian penduduk Majalengka terutama adalah bertani dan buruh. Kemudian berkembang matapencaharian lain seperti berdagang, pekerja pemberi jasa, dan lain-lain.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda. Namun karena mendapat pengaruh yang kuat dari Indramayu dan Cirebon, maka di beberapa wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah-daerah itu, sebagian masyarakatnya menggunakan bahasa Jawa Cirebon, misalnya di Sumberjaya, Parapatan, Jatiwangi, Ligung, dan Jatitujuh.
Di Majalengka juga berkembang kesenian khas Majalengkaan seperti kuda renggong, sampyong, gaok. Di samping itu berkembang pula kesenian lain sebagai pengaruh budaya Parahiangan, seperti degung, kecapi suling, jaipongan, reog, wayang golek, calung, dan lain-lain. Kesenian yang tampak sebagai pengaruh dari Cirebon (Jawa) adalah wayang kulit dan tari topeng.  Kesenian yang disebut terakhir justru memiliki ciri tersendiri sebagai topeng Majalengkaan, seperti tari roping yang berkembang di Beber, Ligung.
Dari uraian di atas, tampaklah bahwa perkembangan bahasa dan perkembangan kesenian merupakan perpaduan budaya Cirebon dan budaya Parahiangan. Keduanya singgah di Majalengka dan menjadi kebudayaan yang berkembangan di Majalengka. Perpaduan demikian tidak dapat dilepaskan dari faktor kesejarahan di wilayah Majalengka yang erat kaitannya dengan Cirebon dan Parahiangan. Di dalam sejarah Majalengka disebutkan, bahwa Nyi Rambutkasih yang berkuasa di Sindangkasuh (nama sebelum Majalengka) adalah keturunan Pajajaran, artinya ia seoranga keturunan Parahiangan. Dalam perkembangannya mendapat pengaruh dari Cirebon, yakni dengan datangnya Pangeran Muhammad sebagai utusan Sunan Gunung Jati yang berkuasa di Cirebon. Kedatangan orang-orang Cirebon di Majalengka tentu daja sedikit banyak memberikan warna terhadap perkembangan budaya di Majalengka.
Berikut akan diuraikan asal-usul Majalengka yang memberikan gambaran tentang masuknya pengaruh Cirebon di Majalengka. Namun sebelunya perlu dipahami, bahwa uraian tentang asal usul Majalengka, hingga saat ini baru berdasar pada tradisi lisan yang berkembang di masyarakat. Belum ditemukan sumber rtertulis yang dapat dijadikan pegangan kuat tentang bagaimana Majalengka dapat berdiri. Baru-baru ini kita memperingati Hari Jadi Majalengka yang ke-517, dengan ketetapan peringatannya setiap tanggal 7 Juni. Bagaimanapun, kita patut menghormati jerih payah para Bapak kita dahulu yang telah mencoba menentukan hari jadi Majalengka, walaupun masih perlu dikaji kebenarannya.
II.        Asal Usul Majalengka
Pada abad ke-14 ada sebuah kerajaan bernama Sindangkasih. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu bernama Nyi Rambutkasih. Ia seorang ratu yang adil dan bijksana . Nyi Rambutkasih adalah putra dari Ki Gedeng Sindangkasih, masih kerabat dekat dengan Prabu Siliwangi dari Pajajaran. Agama yang dianut rakyat Sindangkasih pada waktu itu adalah agama Hindu. Nyi Rambutkasih selalu mengajak rakyatnya menjalankan ibadah agama Hindu dengan taat.
Matapencaharian masyarakat Sindangkasih pada waktu itu adalah bertani. Namun untuk kelestarian lingkungan, di wilayah ini ditanam berbagai pohon, yang salah satu di antaranya bernama pohon maja. Pohon ini selain sebagai tanaman hias, batangnya dapat dimanfaatkan untuk mengobati berbagai penyakit. Karena itu, Nyi Rambutkasih memerintahkan rakyatnya untuk menanam pohon ini sebanyak-banyaknya, karena khasiat dan kegunaannya sudah terbukti.
Pada waktu yang bersamaan, di wilayah Karajaan Islam Cirebon sedang terjadi wabah penyakit. Hampir setiap hari terdapat orang yang meninggal. Melihat keadaan demikian, Sunan Gunung Djati yang menjadi raja di Cirebon, merasa sangat prihatin. Ia kemudian mengumpulkan abdi-abdi negara untuk membicarakan musibah yang sedang terjadi. Tabib-tabib pun diundang untuk dimintai pendapatnya mengenai kejadian itu. Dari para tabib didapat kabar, bahwa penyakit yang merajalela itu hanya dapat disembuhkan dengan ramuan yang diolah dari pohon maja.
“Di mana kira-kira pohon maja itu adanya?” demikian pertanyaan Sunan Gunung Djati.
Salah seorang peserta rembugan mengacungkan tangan, menjawab : “Hamba tahu, Kanjeng Gusti. Pohon maja dapat kita temukan di sebelah barat. Di wilayah perbatasan Karajaan Sumedanglarang.”
Maka diutuslah segera Pangeran Muhammad bersama istrinya Siti Armilah untuk pergi ke perbatasan Sumedanglarang, yaitu di wilayah karajaan Sindangkasih, untuk mencari pohon maja yang konon rasanya pahit sekali. Para tabib tahu, pohon maja dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Pangeran Muhammad, putra dari Pangeran Palakaran, pergi bersama istrinya ke wilayah barat. Di tapal batas Sindangkasih, mereka bertemu dengan dua orang jagasatru (penjaga perbatasan). Para jagasatru itu bertanya, apa maksud kedatangan Pangeran Muhammad dan Siti Armillah. Pada saat itu, Pangeran Muhammad tidak mengatakan yang sebenarnya, ia hanya meminta agar ia dipertemukan dengan Ratu Nyi Rambutkasih.
Para jagasatru itu kemudian pergi menemui Nyi Rambutkasih.
“Ampun, Nyi Ratu, kita kedatangan tamu dari Cirebon. Bolehkah kami mengizinkannya masuk?” tanya kedua jagasatru itu.
“Persilakan masuk.”
Pangeran Muhammad dan Siti Armillah pun menemui Nyi Rambutkasih.
“Apa maksud kedatangan kalian ke sini?”
“Ampun, Nyi Ratu. Kami berdua datang ke sini dengan dua maksud.”
“Sebutkan maksud yang pertama.”
“Maksud yang pertama adalah mencari pohon maja untuk bahan ramuan obat penyakit yang menggejala di daerah kami di Cirebon.”
“Maksud yang kedua?”
“Maksud yang kedua adalah mengajakmu dan rakyatmu untuk memeluk agama Islam.”
Mendengar jawaban Pangeran Muhammad seperti itu Nyi Rambutkasih terdiam sejenak, kemudian berkata dengan penuh bijaksana.
“Ki sanak, maksud kalian untuk menjadikan aku dan rakyatku menganut agama Islam, sebenarnya tidak bisa aku tolak. Akan tetapi, aku sendiri tidak bisa menganut agama Islam, karena Hindu adalah agama leluhurku. Tidak mungkin aku menghianati keramat luluhurku.”
“Bagaimana dengan rakyatmu?”
“Aku menyerahkan hal itu kepada kehendak mereka sendiri. Bagi mereka yang ingin ikut denganku, ikutlah! Akan tetapi bagi mereka yang ingin berpindah dan menganut agama Islam, silakan!”
“Terus, bagaimana tentang pohon maja itu?”
“Karena kalian datang ke sini tidak murni untuk mencari obat, akan tetapi diembel-embeli dengan mengajarkan agama Islam, maka aku tidak mengijinkan pohon majaku kalian ambil.”
“Kasihanilah kami, Nyi Ratu!”
“Rasa belas kasihan itu hanya ada pada Tuhan yang kalian anut. Aku sendiri tidak!”
Bersamaan dengan itu, menghilanglah raga Nyi Rambutkasih dan beberapa orang rakyatnya yang setia menganut agama leluhurnya. Dina saat itu pula, menghilanglah pohon maja yang dicari Pangeran Muhammad dan Siti Armillah.
Melihat keadaan demikian, maka berteriaklah Muhammad di hadapan orang-orang Sindangkasih yang tidak ikut menghilang bersama Nyi Rambutkasih : “Madya langka!”
Dijawab oleh rakyat yang waktu itu juga masuk agama Islam : “Madya Langka!”
“Madya langka!”
“Majalengka!”
Maka sejak sebutan madya langka berubah menjadi majalengka maka kejayaan Sindangkasih pun berakhir. Berdirilah karajaan Majalengka, yang dipimpin langsung oleh rajanya yang pertama : Pangeran Muhammad!
Konon, Pangeran Muhammad pada waktu meninggalnya dimakamkan di Gunung Margatapa, sedangkan Siti Armillah makamnya dapat ditemukan di halaman belakang pendopo Kabupaten Majalengka, yang dikenal dengan sebutan Embah Badori.


III.     Penutup
Demikianlah asal-usul Majalengka, yang selanjutnya dapat saja dijadikan pedoman oleh masyarakat sebagai sumber dongeng lisan. Selebihnya adalah tanggung jawab kita semua sebagai generasi muda untuk selalu terus menggali sumber-sumber lain yang lebih kuat.
Insya Allah!

Jumat, 05 Agustus 2011

PRAK-PRAKAN NGAJARKEUN PUPUH


Di handap ieu kasanggakeun conto ngajarkeun pupuh. Sakumaha prak-prakan ngajar, aya tilu tahapan anu kedah dilakonan ku guru jeung siswa, antawisna bae : bubuka, inti, jeung panutup. Pereleanana sakumaha kaungel ieu di handap :

BUBUKA :
1.       Guru mariksa kaayaan murid diawaln ku kecap : “Sampurasun! Kumaha kaayaan hidep poe ieu, sarehat? 2. Saha nu teu sakola? (jeung saterusna).
2.       Guru nerangkeun yen poe ieu rek diajar ngahaleuang dangding wangun pupuh.
3.       Guru ngajak barudak ngabandungan dangding anu dihaleuangkeun ku guru atawa tina kaset. Contona guru ngahaleuangkeun Pupuh Maskumambang.

Itu kusir bangun ambek-ambek teuing
Turun tina delman
Kuda dipecutan tarik
Teu aya pisan ras-rasan.

4.       Rengse ngahaleuang, guru naros ka murid, dangding naon anu nembe dihaleuangkeun. Murid reang ngajawab sakumaha kaweruhna.
5.      Guru nerangkeun yen anu tadi dihaleuangkeun teh dangding dina wangun pupuh. Ari anu dimaksud dangding nyaeta tembang atawa haleuang sora atawa vocal, sedengkeun pupuh nyaeta sesebutan pikeun dangding ngarah teu pahili jeung dangding anu sejenna, anu saterusna urang sebut bae pupuh.
6.       Guru naros ka murid : “Aya sabaraha hiji ari pupuh?” Murid ngajawab. Guru ngamuhunkeun lamun jawaban murid bener, sarta menerkeun lamun jawaban murid salah.
7.       Guru saterusna nyarita : “Cik sebutkeun, pupuh naon bae anu tujuh belas teh?” Murid ngajawab.
8.       Guru naros : naon bedana antara pupuh jeung kawih? Murid ngajawab.
Guru  nerangkeun yen pupuh jeung kawih aya bedana, pupuh teh nya eta dangding anu lamun dihaleuangkeun henteu kauger ku embat atau ketukan. Nanging pupuh kauger ku guru lagu, jeung guru wilangan. Guru lagu nya eta panungtung dina unggal padalisan, ari guru wilangan nya eta lobana engang dina unggal padalisan. Padalisan teh nyaeta jajaran dina unggal pada, ari pada nyaeta “bait”. Contona pupuh maskumamdang anu tadi dihaleuangkeun, dina sapadana aya opat padalisan, unggal padalisan diuger ku patokan lobana engang atawa suku kata, jeung dina tungtung sora kauger ku guru lagu. Jadi bakal kieu :
- Padalisan kahiji : guru wilanganana 7 engang, guru laguna i.
- Padalisan kadua : guru wilanganana 5 engang, guru laguna a
- Padalisan katilu : guru wilanganana 8 engang, guru laguna i
- Padalisan kaopat : guru wilanganana 8 engang, guru laguna a.


Lian ti kauger ku patokan gur wilangan jeung guru lagu, pupuh ngabogaan watek lagu, antarana bae :
 Kinanti ngagambarkeun prihatin, harepan, ngadago

Sinom ngagambarkeun gumbira, senang
Asmarandana ngagambarkeun birahi, silih asih
Dangdanggula ngagambarkeun kabungahan, kaagungan
Balakbak ngagambarkeun pikaseurieun, bobodoran
Jurudemung ngagambarkeun kaduhung, hanjakal
Durma ngagambarkeun  ambek, pasea, gelut, perang
Gambuh ngagambarkeun tambuh laku, samar polah, bingung
Gurisa ngagambarkeun tamba kesel, pangangguran
Ladrang ngagambarkeun banyol, heureuy, gogonjakan
Lambang ngagambarkeun banyol, heureuy, gogonjakan anu leuwih motah
Magatru ngagambarkeun nyelang nyarita, ngeusi, prihatin
Maskumambang ngagambarkeun prihatin, sasambat, nyeri, nalangsa
Mijil ngagambarkeun susah, sedih, cilaka, tiiseun, jempling
Pangkur ngagambarkeun lumampah, napsu, sadia rek perang
Pucung ngagambarkeun piwuruk, wawaran, kaget, eling
Wirangrong ngagambarkeun era, wiring, apes, rugi
9.      Sanggeus kitu, guru nerangkeun yen murid kabeh kudu apal kana pupuh, sabab pupuh mangrupa hasil kabinangkitan urang Sunda, ku sabab kitu hayu urang diajar ngahaleuang pupuh Sinom.

INTI :
1.      Guru masang alat peraga (beberan karton) mangrupa rumpaka pupuh Sinom. Memeh prung ngajarkeun, guru nerangkeun heula patokan pupuh sinom, nyaeta guru wilangan, guru lagu, jeung watekna.
2.      Guru maparin conto haleuang pupuh maskumambang boh langsung atawa liwat kaset  dua balikan.
3.      Guru nungtun ngajar ngahaleuang sapadalisan-sapadalisan. Bulak-balik nepi ka bener kabeh. Tuluy diteruskeun ka padalisan kadua, katilu jeung saterusna.
4.      Sanggeus kabeh padalisan diajarkeun, guru ngajak barudak ngahaleuangkeun Sinom sababaraha balikan.
5.      Guru nanya saha nu geus bias ngahaleuang sorangan.
6.      Murid ngahaleuangkeun sinom saurang-saurang, samentara guru meunteun.
7.      Guru mere komentar kana haleuang pupuh barudak, saha bae nu geus alus, saha bae anu masih keneh kudu ditingkatkeun.

PANUTUP :
1.      Guru mere piwejang yen murid kudu ngapalkeundeui pupuh nu tadi diajaran di imah nepi ka bias pisan.
2.      Guru nutup pangajaran ku ngucapkeun : “Sakitu bae heula. Engke sejen waktu urang diajar deui pupuh nu liana. Isukan urang tepung deui. Sampurasun!”

 Catetan pangaweruh :

Dangding mangrupakeun salah sahiji kabinangkitan Sunda nu asalna ti Mataram. Abus ka Sunda heula pandeuri seni wayang jeung seni batik. Dangding teh susunan basa anu dianggit make patokan tembang. Ari ngadangding nya eta ngarang tembang. Dangding kawengku ku basa ugeran, nyaeta kawengku ku patokan-patokan pupuh. Sedengkeun guguritan mah nyaeta jejer atawa poko nu rek dijieun dangding.
Dina ngadangding pupuh aya nu disebut :
  1. Guru Lagu, nyaeta sora panungtung dina unggal padalisan;
  2. Guru Wilangan, nyaeta lobana Engang dina unggal padalisan.

Pupuh

Ari pupuh teh kabehannana aya 17 ( tujuhbelas ) rupa nu kabagi kana dua garis badag, nyaeta:
  1. PUPUH AGEUNG atawa biasa disebut K.S.A.D., nyaeta:
    • Kinanti, wandana: ngadago, prihatin, harepan;
    • b. Sinom, wandana: senang, gumbira:
    • Asmarandana, wandana: birahi, silih asih;
    • Dangdanggula, wandana: kabungah, kaagungan, kaendahan, kalangenan.
    Pupuh nu ieu mah sok dianggo dina waktos midangkeun Seni tembang sunda atawa mamaos cianjuran.
  2. PUPUH ALIT. Pupuh ieu aya 13 ( tilu belas ) rupa, nyaeta:
    • Pupuh Balakbak, wandana: piseurieun, bobodoran;
    • Pupuh Durma, wandana: ngambek, Perang;
    • Pupuh Gambuh, wandana: samar polah;
    • Pupuh Gurisa, wandana: pangangguran;
    • Pupuh Ladrang, wandana: heureuy, gogonjakan;
    • Pupuh Lambang, wandana: banyol, gogonjakan;
    • Pupuh Maskumambang, wandana: prihatin, nalangsa, ceurik;
    • Pupuh Mijil, wandana: susah, sedih, cilaka;
    • Pupuh Magatruk, wandana: hanjakal, kanyaho;
    • Pupuh Juru Demung, wandana: kaduhung;
    • Pupuh Pangkur, wandana: lalmpahan, nafsu;
    • Pupuh Pucung, wandana: piwuruk, apes;
    • Pupuh Wirangrong, wandana: wiwirang, era, rugi.


3


Senin, 01 Agustus 2011

PAKUMBUHAN SENI BUDAYA DI MAJALÉNGKA




Hakekat Seni jeung Budaya

Sakabeh mahluk nu kumelendang di alam dunya dilengkepan ku daya pikeun nyalametkeun diri (survival) jeung pikeun tumuwuh (growth). Dina hubungan ieu teu bisa dipungpang yén manusa dibekelan bahan hirup anu leuwih hadé batan mahluk sejenna di alam dunya. Ku sabab éta loba mahluk hirup anu kaancam leungit jeung malah nepi ka hanteuna, sedengkeun manusa mah henteu. Sabalikna, manusa malah jumlahna beuki ngalobaan sabab dibekelan ku daya dukung pikeun mulasara bumi tempatna hirup kumbuh. Pangna manusa bisa hirup leuwih lana batan mahluk sejenna ku sabab manusa mah dibéré akal budi anu mampu nyalametkeun jeung numuwuhkeun dirina.
Akal budi anu dipimilik ku manusa diestapetkeun ti generasi ka generasi saterusna, terus sambung sinambung, sarta malah bisa jadi leuwih mekar. Saterusna akal budi ieu téh ku urang disebut kabudayaan. Kabudayaan nyakup sagala widang kahirupan, di antarana kasenian anu bakal leuwih loba diguar dina ieu prasaran.
Seni asalna tina kecap sani (Bs. Sansekerta), hartina pamujaan, paménta atawa panalungtikan kalawan hormat jeung jujur. Tapi aya ogé anu nyebutkeun yén seni asalna tina basa Walanda, nyaeta tina kecap genie atawa jenius. Dina versi anu séjén seni disebut cilpa anu hartina mibanda warna atawa zat pikeun ngawarnaan, tuluy barobah jadi cilpacastra anu hartina hasil kriya anu artistik. Saterusna seni mibanda sababaraha harti, antarana baé : (a) seni salaku karya seni (work of art), (b) seni salaku kamaheran atawa kaparigelan (skill), jeung (c) seni salaku kagiatan manusa (human activity).
Harti seni salaku benda atawa karya seni nyaeta hal-hal anu ngahasilkeun kalangenan jeung rasa endah, nanging lain ukur ngarasa gumbira, lantaran di jerona ngandung unsur transcendental atawa spiritual. Contona lukisan guha anu mibanda ajén religi-magis anu nguniangkeun spirit jeung sugesti ka sato boroeun manusa purba jaman harita.
Seni dina harti kamaheran, kaparigelan atawa skill nyaeta hiji kamampuh dina nyieun barang atawa hal anu aya hubunganana jeung tarekah ngahontal hiji tujuan anu ditangtukeun ku rasio/logika atawa gagasan anu geus tangtu. Contona Endang Sukandar maher niup suling, nepi ka bisa ngirut nu nongton, tur ku kamaheranana anjeunna jadi pinunjul kahiji dina pasanggiri niup suling sadunya.
Ari seni dina harti kagiatan manusa nyaeta hal-hal anu aya patalina jeung kagiatan anu dilakonan kalawan sadar ku manusa ngaliwatan tanda-tanda lahiriah nu geus tangtu pikeun nepikeun rasa batinna ka batur, anu ngabalukarkeun batur anu narimana bisa milu ngarasakeun jeung milu ngalaman. Contona, saurang juru ibing ngibing jaipongan, maké kostum anu pantes jeung koreo anu hadé, mungguh matak ngirut anu lalajo pikeun ngilu ngarengkenek.
Seni téh ekspresi jiwa manusa anu diébréhkeun dina bentuk karya seni ngaliwatan media seni. Sakabeh karya seni (tari, musik, rupa, teater, jeung sastra) ngabogaan ajén anu bisa ditrasformasikeun dina kahirupan sapopoé. Dina seni aya simbul-simbul kahirupan anu ngabogaan harti anu jero ngeunaan hakekat hirup. Tari ngaliwatan ekspresi gerak, musik liwat tatabeuhan jeung sora manusa (gending jeung sekar), teater liwat ekspresi gerak jeung vokal, seni rupa ngaliwatan media visual. Ngamanahan cabang-cabang seni jadi kacida pentingna pikeun ngawalan hiji proses mikawanoh ngeunaan naon ari seni.
Dina kahirupan sapopoé aktivitas kasenian teu weléh kaalaman ku manusa. Ngan baé aya anu dilakonan kalawan sadar aya ogé anu henteu. Contona, lamun urang ka luar ti imah, indit ka hiji tempat, sok kapikiran pakéan anu kumaha anu pantes dipaké sarta luyu jeung acara anu baris dihadiran. Dina milih pakéan tea, boa urang bakal ngadumaniskeun warna pakéan jeung warna tas atawa warna sapatu. Aktivitas milih pakéan sarupa kitu sabenerna geus kaasup kagiatan seni.
Kamekaran seni di éra globalisasi ayeuna nungtut sikep antisipatif kana situasi anu karandapan. Pangaruh budaya global teu bisa dipungpang bakal mangaruhan kesistensi kasenian. Seni salaku unsur atawa bagian tina kabudayaan mémang bakal salawasna mekar luyu jeung kamajuan jeung robahna jaman. Ngan baé kumaha urang nyanghareupan parobahan éta, sangkan kasenian tetap bisa dicekel pageuh jeung tetap ajeg nangtung.
Mageuhan substansi seni dina éra globalisasi jadi hal anu penting pisan, lantaran roh kasenian asalna tina budaya lokal. Tina sumber tradisi éta sakabeh ekspresi seni bisa dimekarkeun kana bentuk-bentuk séjén anu leuwih kreatif jeung modern. Ngamekarkeun seni tina konvensional kana bentuk kréasi satemenna ngarupakeun tarekah ngalanggengkeun kasenian dina bentuk atawa format anu anyar.


Fungsi Seni pikeun Masarakat Tradisional
Masarakat anu dusun mah kalolobaanana nganggap seni téh sakadar hiburan. Anggapan sarupa kieu kudu dilelempeng, sabab pamahaman seni anu leuwih kompleks ngarupakeun sarana legitimasi, pangpangna basa seni aya di jero istana atawa karaton. Fungsi seni di masarakat tradisional ceuk Soedarsono aya tilu, nyaeta : (1) keur kapentingan ritual, (2) keur hiburan pribadi, jeung (3) keur suguhan estetis atawa tongtonan. Dina kamekaran saterusna seni bisa jadi sarana atikan, media terapi, jeung sarana komunikasi.
Fungsi seni keur ritual lumangsung jaman baheula. Kahirupan kasenian harita can wawuh jeung anu ngaranna instrumen musik, busana, atawa gerak. Harita mah kasenian leuwih nyoko kana misi anu bentukna pamujaan. Nya jaman harita muncul sair-sair anu disebut jangjawokan atawa mantra.
Fungsi seni keur tungtunan diébréhkeun liwat piwuruk atawa pesen anu ditepikeun ku para pamaen, atawa ku dalang. Nu lalajo bisa nyangkem éta piwuruk atawa pesen ku jalan ngabandungan jalan carita, dialog, atawa lagu.
Fungsi seni keur tontonan teu loba ngabutuhkeun pasaratan. Seni anu kaasup kateogiri ieu nyaeta seni anu bisa ngahibur, contona tari ketuk tilu anu bisa diigelan ku saha baé.

Fungsi Seni pikeun Masarakat Modern
Dina kahirupan modern, seni ngabogaan fungsi anu leuwih jembar, antarana baé :
1. Ekspresi / Aktualisasi Diri
Seni anu kaasup kategori ieu miboga babasan ‘seni keur seni’, nu panting seni bisa midang najan dina bentuk kumaha baé. Teu bisa diganggu gugat. Contona seni instalasi, happening art, jsb.
2. Atikan / Pendidikan
Seni salaku media pendidikan ngarupakeun elemen dasar, sabab dina prak-prakanana seni téh teu bisa leupas tina muatan edukatif. Seni mangrupa sarana pikeun ngawujudkeun tujuan ngabentuk budi pekerti manusa.
3. Industri
Fungsi seni salaku industri leuwih ngarah kana tujuan kapentingan anu tangtu pikeun ngadukung salah sahiji produk. Seni dipiharep bisa jadi daya tarik pikeun produk anu ditawarkeun. Contona hiji lagu disanggi keur kapentingan ngajual produk susu.

4. Seni terapi
Seni keur kapentingan terapi digunakeun sacara husus pikeun méré katenangan batin hiji jalma anu keur ngarandapan gering sacara psikhis. Masalah kajiwaan sering pisan disanghareupan ku manusa sarta ngabutuhkeun media pikeun nungkulanana. Contona gamelan bisa dipaké pikeun terapi.
5. Komersial / Iklan
Seni anu mibanda fungsi komersial nyaeta seni anu disiapkeun sarta digelar dumasar kana paménta anu nanggap. Kadang-kadang, ku lantaran loba pisan pesenan seni dina palebah dieu sok leupas tina norma susila, contona orkes dangdut anu midangkeun panyanyi anu norak boh pakéan atawa goyanganana.

Ragem Kasenian di Kabupatén Majaléngka
1) Seni Pintonan
Di luhur disebutkeun yén aktivitas kasenian satemenna ngarupakeun bagian tina aktivitas kabudayaan. Ieu geus lumangsung ti jaman bihari, ti saprak kasenian dilakonan minangka kagiatan ritual. Wewengkon kagiatan kasenian sipatna universal, lumangsung di mana-mana, kaasup di hiji wewengkon anu disebut Majaléngka.
Nilik kana geografisna, Majaléngka aya di antara liliwatan Cirebon jeung Priangan. Ti wétan jeung kalér kapangaruhan ku budaya Cirebon jeung Indramayu, sedengkeun ti kulon jeung kidul kapangaruhan ku budaya Priangan. Hal ieu ngabalukarkeun munculna ragem kasenian di Majaléngka anu ngébréhkeun ayana pangaruh ti dua wewengkon kasebut tadi.
Pangaruh Cirebon jeung Indramayu ebreh dina ragem kasenian saperti tarling, sintren, wayang kulit, sandiwara Jawa, jeung ibing topeng klasik. Kasenian-kasenian ieu sumebar di sababaraha tempat antarana bae di Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, jeung Rajagaluh. Sedengkeun kasenian anu jolna ti Priangan sumebar hampir di sabagian Majaléngka bagian tengah, kulon, jeung kidul. Ragem kasenian anu aya di antarana kliningan degung, jaipongan, wayang golek, calung, tembang Sunda Cianjuran, celempungan, sandiwara Sunda, ibing penca silat, pantun, jeung reog.
Di antara sababaraha rupa kasenian anu aya, sampyong jeung gaok nepi ka danget ayeuna dianggap salaku kasenian asli Majaléngka, sanajan bukti ka dinya masih kénéh perelu panalungtikan anu daria. Di sagédéngeun éta, aya sababaraha jenis kasenian anu jolna ti lingkungan pasantren saperti gembyung jeung kosidah. Di Kertajati, jeung malah di Bantarujeg, aya kasenian genjring anu mintonkeun bodehan atawa debus. Kiwari kasenian bodehan geus méh teu aya.
Di wilayah komunitas seni musik diatonis, gelar sababaraha kelompok musik dangdut jeung musik pop. Malah komunitas musik dangdut mah ayeuna keur diogo ku ayana media musik elektun anu bisa nyayagikeun pasilitas musik liwat disket, anu disebut organ tunggal. Fenomena munculna organ tunggal salaku hiburan masarakat saeutikna geus mampuh ngageser kasenian tradisional ka tempat anu hara-haraeun hirup. Sababaraha kelompok seni tradisional mal geus ti béh ditu kénéh pupulur. Sabagian personilna ngagabung ka kelompok organ tunggal.
Di Jatitujuh gelar hiji komunitas musik anu nyebut dirina Konser Kampung Jatitujuh. Ieu komunitas nyipta jenis musik dina wangun kolaborasi antara musik tradisional tarling jeung musik modern. Lagu-lagu anu dihaleuangkeunana mangrupa lagu-lagu balada, nyaeta lagu-lagu anu diangkat tina sajak atawa puisi. Geus sering manggung di ditu di dieu, malah nepi ka luar kota. Hanjakal ieu komunitas téh ayeuna ngalaman pakeum malah keur suwung pisan kagiatan.
Di lingkungan pasantren Al Mizan Jatiwangi gelar hiji komunitas musik Q-Buyut anu dina pidanganana ngagelar lagu-lagu shalawatan jeung pupujian. Béda jeung kasidah, Q-Buyut mah ngagunakeun gamelan pelog lian ti alat musik modern saperti gitar , keyboard, jeung dram.
Di Jatisura Jatiwangi gelar hiji komunitas anu nyebut dirina Jatiwangi Art Factory (JAF) anu geus hasil nyipta hiji alat musik anu dijieun tina keramik (bahan tanah liat), anu disebut alat musik Sadatana. Ieu alat musik téh geus méré cirén anu mandiri minangka salah sahiji ikon alat musik has anu gelar di wewengkon Kabupatén Majaléngka. Dina festival musik kolaborasi di Garut sababaraha waktu ka tukang, sadatana anu diadumaniskeun jeung kacapi suling, hitar, jeung biola meunang perhatian husus ti nu lalajo jeung juri. Dina éta kasempetan Majaléngka anu diwakilan ku alat musik sadatana jadi juara katilu festival musik kolaborasi tingkat Propinsi Jawa Barat. Dina kasempetan nu séjén, sadatana sering manggung ka luar kota, malah kungsi manggung di mancanagara saperti Malaysia, Jepang, jeung Australia.

2) Seni Sastra
Tradisi sastra di Majaléngka diawalan ku mekarna sastra lisan. Sebaran sastra lisan dilakonan liwat sababaraha cara, aya anu ditepikeun liwat dongen, aya ogé anu liwat kesenian. Kesenian anu nyebarkeun sastra lisan di Majaléngka nyaeta : pantun jeung gaok.
Hasil karya sastra lisan anu asalna cerita rakyat di antarana Nyi Rambut Kasih, Situ Sangiang, Sumur Tujuh, jeung réa-réa deui anu nepi ka kiwari masih kénéh sumebar sacara lisan, tacan kungsi ditranskripsikeun jadi sastra tulis.
Tradisi nulis di Majaléngka ngawitan témbong basa di Jatiwangi, Dayim Sutawiria nuliskeun carita Nyi Rambutkasih dina wangun naskah gending karesmén. Getih sastra Dayim Sutawiria nurun ka palaputrana, nyaeta Ayip Rosidi jeung Ayat Rohaedi. Duanana nulis dina basa Sunda jeung basa Indonesia.
Sanggeus Ayip Rosidi jeung Ayat Rohaedi, muncul sababaraha ngaran sastrawan Majaléngka, sanajan nepi ka danget ayeuna can aya anu mampuh mapakan Ayip jeung Ayat. Di antarana baé nyaeta Erwan Juhara, Beni R. Budiman, Akhmedya Tatang Koswara, Erga, Yopi Tjahya, Sumarta, Rahmat Iskandar, Kijoen, Hasan Ma’arif, K.H. Maman Imanulhaq Faqieh, Hikmat Gumelar, Memet Rahmat To’ev, Joni Ariadinata, Nandang Darana, Ahid Hidayat, Dartum Sukarsa, jrrd.
Sedengkeun anu nulis dina basa Sunda di antarana : E. Wangsadihardja, Akhmedya Tatang Koswara, Sumarta, Rais Purwacarita, Tatang Riyana, Memen Durahman, Asikin Hidayat, Oom Somara De Uci, Maman Nasya, Hj. Amallina Nurohmah, jeung Lismia.
Kegiatan sastra di Majaléngka danget ayeuna bisa disebut hade. Rais Purwacarita produktif nulis karya sastra prosa. Salah sahiji carponna Kuwung-kuwung di Lawang Gintung jeung Cukang Gantung dileler hadiah carpon Pinilih Mangle. Asikin Hidayat, Hj. Amnallina Nurohmah, jeung Lismia tiluanana nulis sajak. Tiluanana deuih kungsi meunang hadiah ku kapilihna salah sahiji sajak maranéhna dina majalah Mangle. Asikin Hidayat nerbitkeun kumpulan sajak Lagu Simpé anu diterbitkeun ku Kemucen (2007), Hj. Amallina Nurohmah nerbitkeun Dongeng Kuring di Tanah Suci (2007) jeung kumpulan sajak Angin Gandrung (2008). Duanana diterbitkan ku Kemucen.
Nyebut Kemucen teu bisa leupas ti asma Oom Somara De Uci, sastrawan anu nulis kumpulan carpon Astrajingga Gugat jeung Koruptor. Anjeunna ngadegkeun Kemucen geusan nampung jeung medalkeun karya sastra para penulis Majaléngka.

3) Seni Rupa
a. Seni Lukis
Kamekaran seni lukis di Majaléngka kaitung lambat. Kagiatan pameran lokal kungsi dilaksanakan taun 1988 ku kelompok SRAM. Taun 2008 aya deui pameran anu dialpukahan ku guru-guru Kasenian di Kabupatén Majaléngka. Ka dieunakeun, muncul kelompok lukis Jatiwangi Art Factory (JAF) anu kagiatanana leuwih konsisten.
Hadirna seni lukis JAF méré nuansa nu hadé pikeun kamekaran seni lukis di Majaléngka. JAF kungsi ngayakeun pameran di :
1. Galeri Kita Bandung
2. Galeri Nasional Jakarta
3. Galeri Cipta Jakarta
4. Galeri Cemara Jakarta

b) Seni Pahat
Seni pahat mekar di wewengkon Rajagaluh, nyaeta pahat batu. Sanajan tendensina leuwih ka arah bisnis, nanging secara artistik seni pahat batu anu mekar di Rajagaluh sacara mandiri méré warna kana kamekaran seni di Majaléngka.
Di JAF muncul sababaraha urang tukang nyieun arca (patung) anu ngagunakeun media tanah liat keur nyieun karyana. Salah saurang di antarana nyaeta : Subita, wedalan Jatitujuh anu hasil karyana sering dipamerkeun bareng jeung pameran seni lukis sarta pentas musik sadatana.

c) Seni Kriya
Seni kriya di Majaléngka mekar di Rajagaluh jeung Leuwimunding mangrupa anyaman awi, nu hasilna ngawujud parabotan rumah tangga saperti boboko, dudukuy, jsb.
Di Balida aya pangrajin wayang kulit anu dina prakprakanana ngarupakeun gabungan seni lukis jeung seni pahat (kulit). Wastana Dede Permana (32 taun), anu mimiti diajar nyieun wayang ti awit kelas 3 SD.

Wujud Kabudayaan Lianna di Majaléngka
Wujud kabudayaan liana di Majaléngka, lian ti kasenian, ebreh dina basa jeung adat istiadat. Sakumaha kasenian, adat istiadat jeung basa ogé keuna ku pangaruh Cirebon jeung Priangan. Dina hal ieu Majaléngka bisa dipilah jadi tilu wewengkon, nyaeta wewengkon kalér wétan, anu keuna ku pangaruh Cirebon, wewengkon kidul kuklon anu keuna ku pangaruh Priangan, jeung wewengkon tengah.
Wewengkon kalér wétan anu keuna ku pangaruh Cirebon ngabentuk karakter masarakat anu heuras, tandes, jeung gedé wawanen. Basa anu sumebar nyaeta basa Sunda anu pacampur jeung basa Cirebon jeung basa Indramayu. Malah aya wewengkon anu ake basa Cirebon. Lentong basa Sunda anu sumebar lempeng jeung heuras.
Masarakat di wewengkon kidul kulon sipatna leuwih lemes, lentong basana leuwih merenah, henteu cara urang kalér wétan. Geura bandungan lamun urang Talaga atawa Cikijing cumarita, geuning aya lentong anu halimpu urang Ciamis atawa urang Priangan lainna. Basa anu dipakena basa Sunda lulugu, henteu kacampuran ku basa Cirebon.
Ari di wewengkon tengah, masarakatna leuwih jumawa, baroga sipat ningrat, sabab komunitasna leuwih loba pagawe nagri jeung pajabat pamarentahan. Basa anu sumebar nyaeta basa Sunda lulugu, anu lentongna ka kalér henteu ka kidul henteu. Geura bandungan lamun urang Majaléngka kota ngomong, geuning lentongna boga lagu anu mandiri.

Pamungkas
Majaléngka mibanda seni jeung budaya anu munel jeung loba. Ieu potensi bisa baé ku urang dimekarkeun ku cara neuleuman jeung narékahan sangkan kasenian jeung kabudayaan umumna bisa mekar tur langgeng. Kabudayaan dina praktekna ngabogaan fungsi nyalametkeun jeung ngamekarkeun karaharjaan manusa. Hal ieu ebreh dina fungsi unsur-unsurna nyaeta mitos (agama/kapercayaa), basa, sistem sosial, sistem ekonomi, sistem pangaweruh, teknologi, jeung sistem kasenianana. Kari kumaha carana urang ngawangun sistem-sistem téa make rarambu anu luyu jeung pangabutuh.
Cag!