SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

SENI ADALAH PERILAKU HIDUP

Bersama Seni Aku Lalui Waktu.

Senin, 22 Juli 2013

SAJAK-SAJAKKU

TAK KUTAHU LAGI


Tak kutahu lagi berapa lama aku dijerat waktu
Menjadi budak setiap kata pada setiap persinggahan
Bahkan hingga di sudut kamar yang sempit ini
Masih saja kucoba mencari ide-ide perlawanan
Kerapkali kubertemu dengan sebilah mata angin
Menerbangkanku hingga ufuk pagi tak menentu
Subuhku dirajam kegelapan semata

Lagi ku mencari-Mu di relief kulit ariku sendiri
Sambil jijik kubisikkan kebusukan hari esok
Setelah begitu tegar menghadapi bau apek hari kemarin
Dengan pesta-pesta seadanya, dengan arak dan serapah
Hingga tersisa di ujung sia-sia
Bentukku makin redup di ujung Subuh-Mu

Jika waktu-Mu adalah jadwal kehidupan
Mengapa aku masih diberi rupa?

2008





GERIMIS DI KOTA CIAMIS

Trotoar ini, telah kutandai sejak siang tadi
Agar kelak mengajakku menimba napas
Merangkum sore menjadi kenangan
Hingga lumat jalan ini pada malam nanti

Kenyataan terkadang sukar ditebak
Kehendak Tuhan-kah ketika setitik air jatuh
Kemudian disusul dengan titik-titik air lainnya
Menjadikan segala menjadi kuyup

Kuyup pulalah harapan jadinya
Seperti dinding kamar yang lembab
Merenungi sepi sepanjang malam
Atap adalah angka-angka waktu bergulir pelan

Kuyup pulalah luapan hatinya
Ketika tak sedetik pun sempat berucap
Padahal sempat diucapkannya janji
“Temui aku di gerbang depan hotel...!”

Kuyup pulalah gerimis hingga pagi
Sampai tak nampak lagi keriangan
Karena hati tak tergoyahkan lagi
“Sudahlah, besok mungkin masih tersisa janji...!”

2010




HARI INI

Masih juga aku merasa resah
Ketika kudapatkan sisa-sisa hari kemarin
Meski sudah kurubah tema perjalanan hari ini

Adalah sepenggal harap yang tak tuntas
Kuselesaikan menjadi sajak
Atau ungkapan lain yang sejenis

Misalnya tentang kepenatan
Dalam hitungan jari
Kemudian lenyap di ujung paling barat matahari

Setidaknya aku akan tahu
Bahwa kalimat pun dapat selesai
Pada tepi sebuah titik

Padahal pada titik itu sendiri
Masih tersisa celah-celah untuk bercermin
Merekam jejak masa lalu

Atau mengintip jejak berikutnya
Maka sengaja pula kusisakan harap
Untuk hari esok

(Sebab esok aku masih berharap ada...!)


2010

Senin, 18 Maret 2013

NILAI-NILAI FILOSOFIS PEMBANGUNAN KABUPATEN MAJALENGKA

Pengantar
  
Pembangunan pada dasarnya adalah proses perubahan yang berkesinambungan ke arah kemajuan dan perbaikan sebagai tujuan yang dikehendaki bersama. Proses perubahan diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan semua lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, sudah menjadi kewajaran jika ada tuntutan untuk menumbuhkan peran partisipatif masyarakat dalam berbagai sektor pembangunan. Pemikiran seperti ini tidak lepas dari tuntutan dinamika pertumbuhan sosio-kultural yang ada. Sebab, dalam suasana persaingan global, masyarakat mesti lebih kreatif melakukan pemberdayaan-diri agar tidak digerus perkembangan kehidupan kontemporer.

Namun demikian, kenyataan empirik dalam kehidupan sosial-politik belum menunjukkan iklim yang dinamis bagi cita-ideal tersebut di atas. Peran partisipatif masyarakat yang tersalurkan lewat musyawarah di tingkat lokal kerapkali tercampakkan di tingkat politis dan legislasi. Pemerataan pembangunan dan keadilan sosial belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara menyeluruh. Lebih dari itu, masyarakat pun belum sepenuhnya berdaya dalam mengikuti dinamika kehidupan kontemporer yang ada.

Kondisi tersebut seyogyanya direspon oleh Pemerintah Pusat dengan menggulirkan program yang lebih mengena. Selama ini Pemerintah memang pernah menggulirkan program PNPM hingga PNPM yang paling mutakhir yaitu PNPM Mandiri Pedesaan. Tujuannya tidak lain dalam rangka mendorong percepatan keberdayaan masyarakat dalam perubahan sosial dan pemerataan hak-hak partisipatif masyarakat terhadap semua akses pembangunan, mulai dari hulu sampai ke hilir.

Program pembangunan, agar mendapat apresiasi positif dari banyak kalangan harus mencerminkan beberapa keunggulan, seperti :
1.      Meningkatnya kemampuan masyarakat dan pemerintah desa dalam pengelolaan pembangunan di daerah;
2.      Adanya partisipasi dan swadaya masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang cukup tinggi;
3.      Hasil dan dampaknya cukup nyata, khususnya dalam penanggulangan kemiskinan;
4.      Pembiayaan pelaksanaan pembangunan relatif lebih murah dan dilaksanakan secara swakelola; dan,
5.      Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan kegiatan dan pengambilan keputusan cukup luat.

Namun demikian, program pembangunan yang bergulir tersebut ternyata masih menyisakan sejumlah kelemahan, yakni:
1.      Adanya ekslusivitas proyek lewat penggunaan prosedur kerja yang bersifat khusus. Kelemahan ini berdampak pada kurangnya keterpaduan dan keselarasan dengan program reguler yang sejenis;
2.      Karakter proyek bersifat ad hoc (sementara) sehingga kurang sustainable;
3.      Partisipasi dan pelembagaan masyarakat masih cenderung mobilized, bukan akibat kesadaran reflektif-kritis masyarakat secara utuh;
4.      Penyediaan tenaga bantuan teknis cenderung melahirkan ketergantungan kepada pihak eksternal, sehingga mengurangi nilai kemandirian dan kreativitas masyarakat; serta,
5.      Penguatan kapasitas masyarakat tidak diimbangi dengan penguatan kapasitas pemerintahan lokal.

Analisis atas kelemahan tersebut, pada gilirannya mengundang kebutuhan untuk menyusun rancangan program yang diorientasikan pada keterpaduan antara pemberdayaan sumberdaya manusia secara makro dengan perkembangan kehidupan kontemporer secara praksis. Secara bersamaan, program yang dirancang hendaknya mampu membuka ruang publik yang lebih luas bagi peran partisipatoris masyarakat dalam berbagai dimensi kehidupan dan pembangunan. Selain itu, program ini pun dirancang untuk lebih mnumbuhkembangkan kemengertian dan kesadaran beragam komponen masyarakat untuk tumbuh bersama, baik secara sosial, budaya maupun ekonomi dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sementara itu, perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ternyata membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Dalam konteks ini, rancangan program tersebut perlu menempatkan aspek pengembangan kebudayaan yang dapat memberikan arah bagi perwujudan identitas nasional yang sesuai dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa sehingga mampu menciptakan iklim kondusif dan harmonis bagi penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Pada gilirannya,  nilai-nilai kearifan lokal inilah yang akan merespon modernisasi dengan positif dan produktif sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan sekaligus mendorong keberdayaan masyarakat dalam mengadopsi budaya global yang lebih relevan bagi upaya percepatan pembangunan.

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, dipandang perlu mengintegrasikan program-progam pembangunan dengan progran-program reguler di tingkat lokal melalui dukungan regulasi yang relevan dari pemerintah kabupaten. Dengan demikian, program-program pemberdayaan yang bersifat partisipatif dapat terlembaga secara reguler dan sustainable (berkelanjutan) sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah. 

Program Sabilulungan adalah program yang di dalamnya terdapat proses adopsi terhadap keunggulan-keunggulan lokal dan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang yang terangkum dalam filosofi “Sindangkasih Sugih Mukti, Majalengka Bagja Raharja” dan visi pembangunan Kabupaten Majalengka: Religius, Maju dan Sejahtera (REMAJA)”. Berikut sekedar masukan (bahan pemikiran) mengenai nilai filosofis pembangunan Kabupaten Majalengka, yang kemudian dapat dijadikan dasar penyusunan program.
1.      Nilai Filosofis
Merunut nilai filosofis Pembangunan Kabupaten Majalengka, terkait erat dengan nilai historis Majalengka yang bermula dari nama kerajaan Sindangkasih yang selama beberapa dekade dipimpin oleh seorang Ratu bernama Nyi Rambutkasih. Sindangkasih merupakan wilayah yang sugih mukti (subur makmur) dan rakyat yang bagja raharja (bahagia). Konteks kemakmuran yang dicapai pada masa keratuan Nyi Rambutkasih ini menjadi inspirasi munculnya sangkakala Sindangkasih Sugih Mukti Majalengka Bagja Raharja yang kemudian menjadi nilai filosofis pembangunan partisipatif Kabupaten Majalengka dari masa ke masa.

Sindangkasih, jika diurai memiliki dua makna kata yang menginspirasi hadirnya sebuah bentangan wilayah yang layak sebagai tempat sindang (singgah) dan mengekalkan kasih (cinta). Sindangkasih – kini nama wilayah kelurahan di Kecamatan Majalengka – merupakan tempat singgah yang penuh cinta. Melalui cinta kasih ditemukan kedamaian, dan kedamaian adalah modal dasar tumbuhnya rasa kebersamaan guna mewujudkan partisipatif masyarakat dalam kegiatan pembangunan.

Sugih berarti subur, ditandai dengan terbentangnya areal tanah pertanian, perkebunan dan kehutanan yang luas. Tanah Majalengka adalah tanah yang memiliki kadar welcome cukup tinggi untuk berbagai jenis tumbuhan. Ini merupakan aset penting untuk mencukupi kebutuhan ekonomi masyarakat melalui kegiatan pertanian, perkebunan dan pemanfaatan lahan hutan.

Mukti bermakna makmur, ditandai dengan kelayakan hidup yang dicapai masyarakat melalui pencapai rata-rata IPM pada batas optimal yang diharapkan. Ini merupakan moedal dasar guna menumbuhkembangkan sektor ekonomi  kerakyatan berbasis pertanian.

Bagja raharja,  memiliki makna bahagia. Kini dapat diinterpretasikan kepada suasana bahagia yang dicapai masyarakat akibat dari upaya-upaya pembangunan yang  ditempuh. Bagja raharja merupakan titik kulminasi yang ditandai dengan tercapainya kehidupan yang serba layak dengan prosentase keluarga sejahtera yang tinggi. Setidaknya, bagja raharja menjadi tujuan utama program pembangunan sabilulungan. 
2.     Nilai Manajerial
Nilai manajerial terkait dengan visi Kabupaten Majalengka Remaja (religius, maju, dan sejahtera).
Religius : Mengandung makna bahwa masyarakat Kabupaten Majalengka dapat meningkatkan pemahaman ajaran agama dan pengamalan agamanya dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Maju: Mengandung makna terwujudnya Kabupaten Majalengka yang lebih baik dengan meningkatnya sumber daya manusia yang berkualitas, keadaan sosial ekonomi masyarakat yang stabil, yang ditandai dengan berkurangnya tingkat kemiskinan dan pengangguran serta ditopang oleh transformasi birokrasi secara bertahap.

Sejahtera : Mengandung makna suatu keadaan masyarakat Kabupaten Majalengka dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasarnya yang ditandai dengan peningkatan derajat kesehatan, pemenuhan pendidikan dasar dan peningkatan daya beli dalam kondisi masyarakat yang aman dan tentram.

Dalam mewujudkan visi di atas, telah ditetapkan Strategi Gerakan Membangun Masyarakat Religius, Maju dan Sejahtera (Gerbang Mas Remaja) yang ditempuh melalui 4 pilar strategi prioritas pembangunan, yaitu :
1)      Gerakan Pembangunan Masyarakat Cerdas, Sehat, Beragama dan Berbudaya (Gerbang Cahaya)
2)      Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat (Gerbang Emas)
3)      Gerakan Pembangunan Pembangunan Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kecamatan dan Desa (Gerbang Kencana), dan
4)      Gerakan Pembangunan Pertumbuhan Modal dan Investasi (Gerbang Permata)

Visi dan keempat pilar utama di atas menjadi pedoman sekaligus nilai manajerial yang dipegang teguh oleh para pemangku kepentingan, sebagai pola pikir mendasar dalam melaksanakan proses mulai dari fase perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai dengan fase pengawasan dan pertanggungjawaban, menuju tercapainya masyarakat Kabupaten Majalengka yang religius, maju dan sejahtera (REMAJA).

Nilai-nilai yang terkandung dalam pembangunan Sabilulungan merupakan manifestasi dari Sapta Mandala Panta-panta (Tujuh Wilayah Sakral Berjenjang) sebagai integrasi filosofis manajerial. Mandala adalah wilayah, yang pamkanaannya tidak hanya merujuk kepada suatu wilayah teritorial dengan batas-batas demografis dan birokratis, namun juga dimaknai sebagai wilayah pikir atau wilayah konsep. Ketujuh mandala itu adalah :

1)        Mandala Kahiyangan
Mandala kahiyangan hakikatnya adalah manifestasi aura Ketuhanan yang terkandung dalam visi pertama Kabupaten Majalengka, yaitu mewujudkan masyarakat yang religius. Sebuah kekuatan Allah SWT sebagai Khalik yang seyogyanya menjadi satu-satunya pusat sepiritualitas, di mana semua orang menggantungkan harapan dan do’a. Tuhan akan berkenan mengabulkan permintaan dan do’a setiap makhluk-Nya manakala dilengkapi dengan niat yang tulus dan baik. Program Sabilulungan merupakan niatan baik yang insya Allah terwujud dan dapat dinikmati masyarakat kabupaten Majalengka pada saatnya kelak. Mandala Kahiyangan menjadi pijakan sebelum fase berikutnya dimulai, karena hanya Allah SWT yang – pada kahirnya – menentukan terwujudnya sebuah program, apa pun bentuknya.

2)      Mandala Kahayangan
Di dalam teori manajemen, fase kahayangan merupakan fase perencanaan, yang berarti juga pernyataan kahayang (keinginan) yang dituangkan dalam sejumlah rencana terpadu. Pada tataran ini manajer membuat perencanaan, yakni penetapan sasaran serta cara mencapainya, karena itu langkah pertama dalam proses perencanaan adalah merumuskan sasaran yang ingin di capai.  Perencanaan (planning), hakikatnya merupakan pemilihan yang berhubungan dengan   kenyataan-kenyataan, membuat dan menggunakan asumsi-asumsi yang berhubungan dengan waktu yang akan datang dalam menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diusulkan dengan penuh keyakinan untuk tercapainya hasil yang dikehendaki.

3)        Mandala Paniatan
Mandala paniatan berhubungan dengan fungsi pengorganisasian, yakni fase penetapan niat dan kehendak yang melalui pengukuhan organisasi. Pengorganisasian adalah upaya mengorganisasikan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lain yang dimiliki organisasi. Proses pengorganisasian mencakup; pengalokasian sumber daya, penyusunan jadwal kerja, dan koordinasi antar unit dalam organisasi. Pengorganisasi berhubungan dengan pengaturan struktur melalui penentuan kegiatan untuk mencapai tujuan.

4)        Mandala Patarekahan
Mandala patarekahan merupakan nilai-nilai kearifan lokal yang mengarah kepada fungsi penggerakan (actuating) dalam teori manajerial. Penggerakan meliputi pemberian motivasi, komunikasi, dan koordinasi. Hal ini penting dilakukan mengingat program sabilulungan adalah program krusial yang seyogyanya digerakkan melalui motivasi yang jelas, dikomunikasikan ke berbagai unsur terkait, dan dikoordinasikan ke beberapa pihak yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung terhadap program Sabilulungan.

5)        Mandala Pagelaran
Mandala pagelaran adalah nilai kultural berikutnya yang mengarah kepada fungsi pengawasan dalam manajemen.  Pengawasan dilakukan guna mengecek dan membandingkan hasil yang dicapai dengan standar atau target yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, pengawasan atau pengendalian didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai, yaitu standar apa yang sedang disaratkan dalam melaksanakan pekerjaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standard.
6)        Mandala Patembongan
Mandala patembongan merupakan nilai kultural yang merujuk kepada pertanggungjawaban. Suatu pekerjaan dianggap selesai dan memiliki legalitas tinggi bila dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Program Sabilulungan merupakan seperangkat rencana pembangunan yang melibatkan kualitas swadaya masyarakat yang kelak memiliki legalitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

7)        Mandala Pangantenan
Mandala pangantenan adalah nilai kultural yang merujuk kepada hasil yang dapat dinikmati oleh semua unsur dan lapisan masyarakat. Ibarat pengantin, program sabilulungan menjadi bukti rangkaian cinta kasih yang diwujudkan melalui kerja sabilulungan, gotong royong, sekaligus pengejawantahan partisipatif masyarakat.

3.      Nilai Operasional
       Nilai oprasional program ini tercermin dalam rangkaian kata-kata : 
-          Sauyunan, memiliki arti seia sekata, sebuah komitmen untuk melakukan melaksanakan program kerja dan mencapai tujuan bersama.
-          Babarengan, memiliki arti bersama-sama melaksanakan pekerjaan atau gotong royong, yang merupakan karakter asli bangsa Indonesia. Suatu pekerjaan besar akan terasa menjadi ringan dan dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat ketika dikerjakan secara gotong royong. Pada masyarakat pedesaan sifat ini masih kental dan menjadi ikon tersendiri.
-          Ilubiung, memiliki arti turut serta dalam kegiatan pelaksanaan program atau partisipatif. Ini erat kaitannya dengan gotong royong yang para praktiknya merupakan bentuk partisipatif masyarakat dalam rangka mendukung program yang digulirkan.
-          Ngaluluguan, memiliki makna menjadi pionir, menjadi yang pertama mengerjakan sesuatu, teladan yang memberikan makna mendalam bagi para penerus program berikutnya.
-          Pangwangunan, hakikinya merupakan tujuan utama program, yang pada praktinya nanti memutuhkan partisipasi masyarakat yang termotivasi dan terkoordinasi secara matang.

Jumat, 08 Maret 2013

SENI GAOK MAJALENGKA


            Gaok merupakan kesenian jenis mamaos (membaca teks) atau disebut juga wawacan,  dari kata wawar ka nu acan (memberi tahu kepada yang belum mengetahui), yang disuguhkan untuk keperluan ritual atau upacara adat ‘ngayun’ (acara seminggu kelahiran bayi). Kata gaok berasal dari kata “gorowok” artinya berteriak, karena gaok dibawakan dengan cara dinyanyikan dengan suara yang keras atau dengan nada tinggi.
          Gaok dibawakan dengan cara memaparkan cerita babad tanpa iringan musik. Jika sekarang terdapat penambahan alat musik, itu hanya digunakan sebagai pembuka saja, tidak digunakan untuk mengiringi mamaos / gaok secara keseluruhan. Sering alat musik digunakan hanya sebagai jeda saja.
            Berkembang di Majaléngka sejak masa peme-rintahan Pangéran Muhammad, yaitu pada abad ke-15. Diprediksi bahwa gaok merupakan media dakwah Islam sebelum masyarakat mengenal budaya baca. Kesenian ini mengalami sinkritisme antara nilai-nilai budaya etnis Sunda dengan budaya Islam yang datang dari Cirebon. Artinya ada pencampuran antara nilai budaya Sunda dengan nilai budaya Islam. Misalnya, pertunjukan dimulai dengan ucapan basmallah, namun bahasa yang digunakan kemudian adalah bahasa Sunda.
        Tokoh yang berperan mengembangkan kesenian gaok antaranya adalah Sabda Wangsaharja sekitar tahun 1920-an. Beliau berdomisili di Kulur, Majaléngka.
           Gaok dimainkan oleh empat sampai enam orang pemain yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Baju yang digunakan adalah baju kampret atau toro, lengkap dengan ikat kepala.
            Pertunjukan dipimpin oleh seorang dalang / pangrawit, dan pemain lainnya berperan sebagai juru mamaos. Selain sebagai juru mamaos, setiap pemain memegang sebuah alat musik atau waditra yang sangat sederhana, semuanya terbuat dari bambu, yaitu berupa kecrek, gendang bambu atau dapat juga digunakan buyung, dan gong bambu yang dibunyikan dengan cara ditiup. Penambahan waditra pada kesenian gaok ini sebenarnya hanya upaya diversifikasi saja, karena secara original gaok tidak diiringi musik.
            Karena sudah dilengkapi alat musik, maka tata urutannya sebagai berikut :
1.      Tatalu, atau tabuhan pra pertunjukan
2.      Lalaguan, antara lain lagu-lagu pupujian, dan
3.      Pertunjukan, berisi cerita babad, cerita rakyat (dongeng), dsb.
            Pada tahap pertunjukan, dalang membacakan larik-larik naskah yang kemudian setiap larik yang dibacakan itu dinyanyikan oleh juru mamos secara bergantian. Jenis lagu bersumber dari pupuh yang berjumlah 17. Namun lebih banyak menyanyikan lagu-lagu Ageung, yaitu Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula.
            Cerita dalam pergelaran seni Gaok  di antaranya adalah : Cerita Umar Maya, Sulanjana, Barjah, Sarmun, dsb. Bahan cerita Gaok kini ada yang sudah ditulis, antaranya Nyi Rambutkasih dan Talagamanggung, keduanya ditulis oleh E. Wangsadihardja (alm.).
        Kesenian Gaok saat ini merupakan salah satu kesenian yang langka di Majaléngka dan memerlukan perhatian yang serius dalam pembinaannya. Dalam hal ini perlu adanya upaya regenerasi melalui pendidikan kesenian, baik praktis maupun apresiasi.
            Gaok yang hidup di Majaléngka sekarang tercatat hanya dua grup saja, yaitu di Désa Kulur dan di Burujul. Di Désa Kulur, pelestarian kesenian gaok dilakukan oleh E. Wangsadihardja. Setelah beliau meninggal pada tahun 2006, kesenian Gaok dilanjutkan oleh para penerusnya, yaitu Sukarta dkk.
            Banyak pemikiran yang terlontar agar kemudian Gaok ditampilkan dengan pembaharuan-pembaharuan, misalnya pembaharuan dalam pemain dan teknik memainkannya. Nono Sudarmono melalui Tesis-nya mencoba mengangkat Gaok dengan lontaran idea kolaborasi, yakni pertunjukan gaok dengan iringan alat musik yang lebih dinamis, serta dimainkan dengan cara berdiri, menari, atau menyertakan adegan drama. Ide ini kemudian dikembangkan oleh Sanggar Seni Panghegar yang mencoba menampilkan Gaok Kolaborasi, dan sempat dipertunjukkan di Gasibu Bandung beberapa waktu yang lalu. Pertunjukan itu sendiri mendapat sambutan hangat dan bagi sebagian pihak ini merupakan upaya positip guna menghidupkan kembali Gaok di tengah alam globalisasi sekarang ini.
        Semoga!

Jumat, 14 Desember 2012

WAYANG KULIT PURWA DI MAJALENGKA

A. Tinjauan Historis 

Wayang kulit telah ada sejak masa pemerintahan Sri Maharaja Lokapala Hariwangsa Tunggadewa. Ini diketahui dari prasasti yang dikeluarkan tahun 840 M. Prasasti lainnya yang menyebut adanya wayang kulit adalah prasasti yang berangka tahun 907 ketika Diah Balitung memerintah Mataram I. Di Jawa, wayang kulit dikenal masyarakat pada masa pemerintahan Raja Airlangga sekitar abad XI. Pada masa pemerintahan Raden Fatah (Demak) wayang kulit pernah dilarang, karena wajahnya seperti manusia.
Agar wayang tetap hidup, para wali bersepakat membuat bentunya yang baru, terbuat dari kulit yang sangat sederhana. Sunan Kalijaga kemudian mengusulkan agar wayang kulit menjadi media syiar Islam. Di samping itu bertujuan untuk menghilangkan kepercayaan kepada dewa-dewa dalam agama Hindu. Karakteristik tokoh pendeta yang ada pada Mahabarata dirubah, sehingga masyarakat beralih pandang dan bersedia masuk agama Islam.
Seiring dengan upaya penyebaran agama Islam, wayang kulit masuk ke wilayah Cirebon dan sekitarnya. Imbas dari penyebaran agama Islam melalui Cirebon itu akhirnya sampai juga di wilayah Majaléngka, dan berkembang pesat pada tahun 1960-an. Wayang kulit yang berkembang di Majaléngka terutama tersebar di wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Cirebon dan Indramayu, seperti Jatitujuh, Jatiwangi, dan Sumberjaya.
Terdapat beberapa pebedaan antara wayang kulit yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya dengan wayang kulit di Yogyakarta, antaranya :
1. Bentuk tokoh lakon Mahabarata dan Ramayana yang berkembang di Cirebon dan sekitarnya cenderung sama dengan yang berkembang di Demak.
2. Tokoh panakawan di wilayah Cirebon, Indramayu dan Majalengka terdapat 9, yaitu Semar, Gareng, Dawala, Sekarpandan, Bagong (Astrajingga), Cungkring, Bitarita, Ceblok, dan Bagalbuntung. Sedangkan di Yogyakarta hanya empat, yaitu Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Perkembangan wayang kulit di Majaléngka tidak bisa lepas dari nama Sunan Kalijaga dengan sebutan Pangéran Panggung sebagai cikal bakalnya.
Di bawah adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam mengembangkan wayang kulit.
1. Pangéran Panggung (Sunan Kalijaga)
2. Pangéran Canggah Kawi
3. Pangéran Surapringga
4. Kidar
5. Kintan
6. Kaca
7. Gunteng (Gendut)
8. Keling (Karep), yang satu ini merupakan dalang Keraton Kasepuhan Cirebon. Ia juga mendapat julukan Ngabei Kertaswara atau Embah Bei.
9. Patut
10. Candra / Suwati
11. Supena
12. Dana
13. Suta
14. Karma Al HB

B. Waditra dan Tata Cara Pertunjukan 

 Pergelaran wayang kulit biasanya menggunakan layar atau kain putih membentang di bagian depan panggung. Di belakang layar dipasang lampu blencong (dalung), penonton dapat melihat bayangan wayang kulit di layar bagian depan ketika wayang kulit dimainkan.
Waditra pengiring wayang kulit adalah seperangkat gamelan berlaras pelog yang terdiri dari : gendang, kulanter, bedug, saron, peking, selentem, gong, kempul, panerus, kenong, jengglong, ketuk, gambang, kecrek, kamanak, dan suling.
Adapun personil pergelaran wayang kulit adalah dalang, pemain gamelan (nayaga), sinden, alok, dan catrik (pembantu dalang).
Sebelum pergelaran dimulai, dalang membakar dupa dan membacakan do’a, memohon lindungan dari Tuhan Yang Mahakuasa dan restu dari para ‘karuhun’, agar diberi kekuatan, kecemerlangan berpikir, kefasihan berbicara, dan terutama sekali, keselamatan pertunjukan sejak awal sampai akhir.
Dalam praktiknya, selain sebagai tontonan, wayang kulit juga befungsi sakral, sering dimainkan dalam acara-acara upacara adat, seperti Muludan, Mapag Sri, dan Ngaruat. Untuk keperluan upacara adat, biasanya diperlukan pelengkap berupa sesajian, berupa rujak dan makanan lainnya. Waktu Pabrik Gula Kadipaten masih aktif, wayang kulit menjadi salah satu hiburan wajib yang dipertunjukkan di salah satu sudut lokasi pabrik. Di beberapa tempat, misalnya di Sidamukti, wayang kulit masih sering digelar terutama untuk acara ngaruat. Di Karayunan dan di beberapa daerah di wilayah utara Majaléngka, wayang kulit masih memiliki banyak penggemar.

C. Prospek dan Pembinaan 

 Dalam sebuah kesempatan wawancara, Sukarta, salah seorang tokoh pedalangan wayang kulit purwa di Majaléngka mengemukakan harapan, bahwa seyogyanya wayang kulit kembali ‘dihidupkan’. Ia berpendapat, sebenarnya sebagian besar masyarakat Majaléngka menggemari wayang kulit. Kuncinya adalah adanya perhatian dari pemerintah daerah terhadap kesenian wayang kulit. Misalnya dengan menganjurkan kembali pelaksanaan upacara adat yang di beberapa tempat sudah mulai ditinggalkan.
Upacara adat seperti muka tanah, mapag sri (saat mau panén), dsb. minimal membutuhkan pertunjukan wayang kulit, walau hanya untuk satu kali dalam satu tahun. Daerah yang masih melakukan upacara adat demikian adalah Sidamukti dan Ligung. Di dua daerah ini wayang kulit masih dibutuhkan.
Pembinaan yang dilakukan antara lain melaksanakan pergelaran secara berkala, atau melaksanakan ajang binojakrama seperti yang pernah dilakukan pada bulan Juni tahun 2007. Dari ajang tersebut diketahui, ternyata di Majaléngka potensi pedalangan wayang kulit masih cukup baik.
Berikut beberapa dalang dan nama grupnya yang masih eksis di Majaléngka :
1. Renda, Ringgit Purwa, di Cicurug, Majaléngka.
2. Sukarta, Panggelar Budi, di Bongas, Sumber Jaya (Juara Umum Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1993).
3. Eye Rosdiana, Panca Darma, Sindangwasa, Palasah (Juara 1 Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit se-Jawa Barat tahun 1995).
4. Eman di Cicurug, Majalengka
5. Yono Dana Muda, Gaya Mekar, di Ranji, Dawuan
6. Edi Permana, Sri Sejati, di Balida, Dawuan (Juara II Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
7. Parta Suwandana. Gaya Pribadi, di Loji, Palasah
8. Oong Kertaswara, Pancaroba, di Balida, Dawuan
9. Ita Karwita, di Randegan, Jatitujuh (Juara III Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007)
10. Waskita, di Iser, Leuwimunding (Juara I Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka)
11. Anom Suhadi, di Jatitengah, Jatitujuh (masih berusia 15 tahun, tercatat sebagai peserta termuda Binojakrama Pedalangan Wayang Kulit 2007 di Majaléngka).

Kamis, 13 Desember 2012

SANDIWARA SUNDA DI MAJALENGKA


            
PENGANTAR
 
Sandiwara Sunda di Majaléngka berkembang sejak awal tahun 1930-an. Seni pertunjukan berbentuk teater ini digemari oleh semua lapisan masyarakat pada waktu itu.
            Beberapa perkumpulan atau grup kesenian sandiwara Sunda pernah berdiri, antara lain di Jatiwangi (Mirah Delima, Medal Kawangi, Kutawaringin),  Majaléngka (Budaya Sunda), Dawuan (Gaya Remaja). Di Darmalarang, Malongpong, Munjul, dan Karayunan pun pernah pula berdiri beberapa kelompok sandiwara.
            Himpunan Barudak (HB) adalah kelompok sandiwara yang pertama kali berdiri di wilayah Majaléngka. Kelompok ini dipimpin oleh Karma Al Habe dari Gandu Kecamatan Dawuan. Pada perkembangan selanjutnya kelompok ini mengganti nama menjadi Gaya Remaja dan bermarkas di Kasokandel.
            Pada tahun 1960 sampai tahun 1980-an di Kadipaten dan Majaléngka pernah berdiri gedung-gedung pertunjukan Sandiwara. Gedung pertunjukan yang pernah berdiri di Kadipaten bernama Serbaguna. Beberapa kelompok sandiwara yang melakukan pertunjukan di gedung ini antaranya adalah Galih Pakuan pimpinan Safaat Suwanda, Budaya Sunda pimpinan Kida, dan Sinar Galih pimpinan Aji Somara. Di Jatiwangi juga pernah berdiri gedung kesenian Mustika Budaya. Selain manggung di gedung-gedung pertunjukan dan memenuhi permintaan hiburan hajatan atau event khusus, kelompok-kelompok sandiwara itu ada yang melakukan pertunjukan secara ngubung, yaitu pertunjukan di beberapa tempat secara berpindah-pindah, misalnya di Munjul, Kapur, Apuy, dan beberapa tempat lainnya. Seperti halnya pertunjukan di gedung kesenian, penonton yang datang di tempat ngubung juga ditarik bayaran.
            Masa emas sandiwara Sunda di wilayah Majaléngka bertahan sampai akhir tahun 1984. Setelah itu nasibnya tersingkirkan dengan kedatangan hiburan lain berupa pertunjukan film bioskop dan layar tancap serta maraknya perkembangan televisi.
            Gedung Serbaguna di Kadipaten kemudian berubah fungsi menjadi gedung bioskop. Gedung Mustika Budaya di Jatiwangi berubah fungsi menjadi gudang pupuk, dan sekarang menjadi pertokoan. Tempat ngubung pun satu-persatu hilang.
            Walaupun demikian upaya survive tetap dilakukan. Gaya Remaja di Dawuan dan Medal Kawangi di Palasah hingga sekarang masih berdiri, walaupun  frekuensi pertunjukan sudah sangat jarang. Bahkan beberapa perkumpulan yang relatif baru pun berdiri di beberapa tempat, antara lain Candra Kirana pimpinan H. HR Affendi di Ampel, Ligung, dan Putra Remaja pimpinan S. Aripin di Pagandon.
            Beberapa tokoh sandiwara Sunda di Majaléngka antara lain : Karma Al Habe, Hj. Mimi Karwati, Komar Sonjaya, Tatang Riyana, Mih Atin, Agod, Ayi, Hayo Haryono, Toto Subrata, Otong Ruslan, Dudung Durahman, Jumali, Juned, Odri (Wa Agod), Ratnanengsih (Ma Ala), Toto Batara, S. Aripin, HR Affendi, dll.

           
UNSUR CERITA SANDIWARA
 
Terdapat beberapa jenis cerita yang diangkat dalam pertunjukan sandiwara, yaitu cerita pantun, cerita Mahabarata dalam bentuk wayang orang, cerita babad, dan cerita desik. Cerita pantun antara lain Lutung Kasarung, Sangkuriang, dll. Cerita wayang antara lain Arjunawiwaha, Bangbang Kombayana, dll. Cerita babad di antaranya Dewi Roro Kidul dan Hayam Wuruk, Damar Wulan, Ciung Wanara, dan Suryaningrat. Cerita desik diambil dari cerita seribu satu malam, antaranya adalah Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dll.
            Di wilayah Majaléngka, cerita yang sering ditampilkan adalah cerita pantun dan cerita babad.

UNSUR BAHASA, DRAMA, TARI, SUARA,  DAN  RUPA

   Bahasa dan sastra menyangkut penggunaan bahasa dan ungkapan dalam pertunjukan sandiwara. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan sandiwara adalah bahasa Sunda berbentuk prosa, namun di sana-sini terdapat banyak sekali ungkapan-ungkapan yang puitis.

   Unsur drama menyangkut pemeranan dalam pertunjukan sandiwara, misalnya raja, permaisuri, patih, dll. Setiap pemeran melakukan dialog satu sama lain dan terlibat dalam konflik yang dibangun. Di dalam pemeranan, ada yang disebut pemeran utama dan pemeran pembantu.
         Pemeran utama wanita dalam pertunjukan sandiwara dikenal dengan sebutan sripanggung. Mimi Karwati, Nanah Hasanah, adalah dua orang sosok sripanggung yang sangat dikenal pada masanya.

  Unsur tari tersaji untuk cerita-cerita pantun, cerita wayang, dan cerita babad. Hampir semua pemain sandiwara mampu menari, dengan karakter tarian sesuai dengan peran masing-masing pemain.

      Seni suara tersaji dalam bentuk nyanyian yang dibawakan oleh sinden dan penabuh gamelan. Seperti halnya pertunjukan wayang, setiap adegan memiliki karakter lagu dan jenis tabuhan tertentu.

      Seni rupa muncul dalam bentuk artistik latar belakang panggung berupa layar-layar yang dibentang, dan digulung ke atas jika tidak sedang dipakai. Setiap layar digambar sesuai karakter bagian cerita atau adegan, misalnya layar putih, layar merah, gambar kadipaten, gambar kaputren, keraton, taman sari, hutan, dll.

             
TATA CARA PERTUNJUKAN
 
Pertunjukan sandiwara, yang dimainkan tanpa skenario tertulis, terdiri atas beberapa adegan atau disebut juga bedrip. Para pemain yang masuk pada setiap adegan menarikan tarian sesuai karakter yang dibawakannya.
            Seperti halnya pertunjukan teater, alur cerita biasanya terdiri atas pengenalan – konflik – klimaks – penyelesaian.

        
PROSPEK DAN PEMBINAAN
 
Sandiwara Sunda kini menghadapi masa yang amat sulit. Perkembangan teknologi informasi yang menyajikan berbagai fenomena dunia yang semakin mudah, semakin mempersempit ruang gerak sandiwara Sunda untuk tetap eksis. Jika di beberapa tempat di Majaléngka masih terdapat grup Sandiwara yang masih hidup, adalah karena generasi pemain Sandiwara masih mencoba menghidupi kesenian yang satu ini, walaupun tidak menjanjikan mampu menghidupi dirinya sendiri melalui kesenian yang dikembangkannya ini.
      Prospek yang paling mungkin adalah upaya pelestarian kesenian yang semakin tersudut ini melalui upaya-upaya :
1.      Regenerasi, berupa pelatihan pengetahuan dan pemeranan sandiwara kepada generasi muda.
2.   Penulisan naskah drama baik berupa bagal cerita, cerita utuh, maupun berupa skenario, sehingga sandiwara dapat dimainkan oleh para pemula.
3.     Adanya upaya pembaharuan dari para pelaku sandiwara Sunda, sehingga sandiwara tampil dengan bentuk baru namun tidak meningalkan khas tradisionalnya. Dengan upaya pembaharuan itu, sandiwara Sunda akan mampu bersaing dengan tontonan lain yang marak berkembang di Majaléngka.
Pembaharuan itu misalnya dalam olah cerita, teknik pemeranan, gending, dan sebagainya. Boleh jadi campursari yang berkembang di wilayah Jawa Tengah menjadi contoh yang baik dari sebuah upaya pembaharuan.
4.  Perhatian serius dari pemerintah untuk tetap memberikan kehidupan kepada kesenian sandi-
     diwara Sunda, baik berupa pementasan rutin, maupun subsidi dengan teknis-teknis tertentu.